3. Bapak Wandi
Masih ingat isitilah cicak versus buaya. Siapakah yang kali pertama mempopulerkan isitilah kontraversial itu.
Benar. Dialah Susno Duaji. Mantan Kabareskim ini adalah saudara kandung dalam rahim institusi bernama Kepolisian. Apakah Pak Wandi suka menilang orang. (wah saya tidak tahu itu)
Belajar ngaji di MTA Blonotan, Bapak Polisi yang satu ini, termasuk warga MTA yang paling militan. Militannya pak polisi ini, jangan diartikan suka main tilang. Militan disini adalah ghirah, sebuah semangat menyala-nyala, untuk tampil menjaga amanah hati, menjaga iman, agar tidak tergerus, tergores, dan terlindas kejamnya roda dinamika kehidupan dunia, sebuah roda bernama kepolisian
Wajah polisi pada hari-hari ini adalah wajah polisi yang coreng-moreng. Sebuah fakta membuktikan bahwa polisi selalu identik tilang, korupsi, dan segala macam berbau miring. Padahal ada juga sebuah fakta lain yang sedang berbicara sebaliknya. Fakta itu ada pada sosok pak Wandi. Bahwa tidak semua polisi itu jahat, masih banyak polisi yang baik, termasuk pak Wandi. Dia dengan rela menginfakkan sebagian waktunya atau qordon hasana , itu untuk sebuah kegiatan yang jelas-jelas tidak memberikan credit point — bisa mengerek jabatannya ke posisi lebih tinggi, Kapolda DIY, misalnya
Tak peduli hujan, tak peduli panas. Hujan, kata bapak dua anak ini suatu ketika, kan ada jas hujan. Artinya, jangan karena hujan terus tidak ngaji. Rugi, katanya lagi dengan tanpa ekspresi, seolah pak Wandi sedang berhadapan dengan seorang copet yang tengah diinterogasi.
Penampilan pak Wandi dalam setiap kesempatan ngaji di MTA, sepanjang saya ketahui, selalu memakai baju batik lengkap dengan songkok hitam. Pada kesempatan yang sama, ia sering tampil memimpin qiro’ah sebelum pengajian ustadz dimulai. Inilah barangkali, satu-satu warga MTA Blonotan yang tingkat bacaanya jauh lebih baik.
Terlepas dari itu semua, dalam soal pengamalan hidup bermasyarakat, terutama menyangkut masalah acara ‘puji tahlil’ (demikian acara itu sering disebut orang), pak Wandi punya stategi khusus, yang tidak semua orang bisa memiliki. Sebagai seorang polisi, jam kerjanya tentu tidak beraturan. Kadang dinas malam kadang dinas pagi. Kemewahan inilah yang digunakan pak Wandi untuk mengelabui acara-acara itu. Dan lebih serunya, program kamuflase ala pak Wandi ini dicoba ditularkan kepada teman yang lain. Tentu saja, tidak semua orang bisa menirunya. Karena strategi itu yang punya hanya pak polisi.
Ada amplop tentu ada prangko. Dengan analogi yang sama, Saya melihat kalau ada Pak Wandi selalu ada Pak Rusmono. Kenyataan itu menyulitkan saya untuk tidak mengatakan bahwa kedua orang ini pasti dua polisi yang diutus kesatuannya untuk memata-matai (semacam agen spionase) pada kegiatan MTA.
Tapi saya salah. Pak Wandi adalah seorang polisi, dan pak Rusmono adalah seorang guru. Ternyata dua orang ini bukan saudara, tapi tetap saudara dalam rahim Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA).
Sedemikian lengketnya kisah dua orang sahabat ini, hatta posisi duduknya pun harus bersebelahan dan selalu berdekatan. Akrab sekali. Antara dua sahabat ini, kayaknya ada semacam kongkalikong atau memorandum of understanding (MOU), sebuah kesepakatan bersama bagaimana pak Wandi dan pak Rus ini menyikapi status ke-MTA-an nya dalam bergaul di tengah masyarakatnya. Sebuah masyarakat yang notabenenya masih kental dengan aroma budaya sinkretisme, atau lebih tepatnya budaya TBC (Tahayul, Bid’ah, Churafat).
{bersambung)
Senin, 06 Juni 2011
Minggu, 05 Juni 2011
Kisah Para Peluru (4)
2. Bapak Sahono
Harus diakui, bahwa sebagian warga MTA, khususnya yang belajar ngaji di MTA binaan Blonotan adalah mereka yang berangkat dari kelas ekonomi menengah ke bawah. Bukan berarti warga MTA tidak memiliki apa itu bodyguard. Bodyguard yang saya maksud adalah mereka yang biasanya mengawal dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) agar tetap aman dan nyaman dari serangan musuh.
Serangan musuh ini bisa dari berasal dari laut, udara dan darat. Bodyguard yang saya maksud adalah Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polisi Repubilk Indonesia (POLRI). Dua institusi yang dulu di sebut Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), di MTA Blonotan punya dua nama aparat dengan bedil siap menyalak di tangan.
Dua nama aparat di darat itu adalah Bapak Sahono, yang sehari-hari berdinas di Kodim Piyungan dan Bapak Wandi yang saat ini aktif di Polresta Yogyakarta. Dan yang satu lagi adala Bapak Hadi Santosa, TNI-AU yang saat bertugas di udara Lanud Adi Sucipto. Saat ini, yang belum ada dari TNI AL. Harap maklum, karena letak geografis berada di tengah sawah. Untuk sementara ini, komposisi warga MTA Blonotan ini makin beragam dan sempuran.
Yang pertama, marilah kita berkenalan dengan Bapak Sahono. Bapak satu ini adalah seorang anggota TNI aktif, yang setiap hariya berdinas di Kodim Piyungn. Suatu hari, secara diam-diam, dengan caranya sendiri, dia pernah mengadakan semacam survey kecil-kecilan perihal eksistensi MTA di tengah masyarakat.
Dari hasil jajak pendapat yang dilakukannya, beliau memberi kesimpulan bahwa lima belas orang yang ditanya, hanya lima orang diantaranya yang mengetahui apa itu Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA). MTA di mata mereka adalah baik. Kesan yang muncul setelah ada dialog antara mereka menyimpulkan, bahwa MTA itu organisasinya solid, guyup, rukun dan disiplin. Tentang disiplin ini, satu diantaranya mempertanyakan masalah absensi jamaah. Lha wong ngaji saja kok diabsen. Tidak lumrah. Kayak bocah sekolah, wae, bisik mereka penasaran.
Ketika banyak orang yang mempertanyakan, menghina, dan bahkan menghujat keberadaan lembaga dakwah MTA, Pak Sahono memberikan tip dan strategi jitu dan mujarab.
“Sodorkan kalender MTA tahun 2010” kedua tangan Pak Sahono terangkat, seolah dengan itu ia ingin menunjukkan bahwa ia sedang memegang sebuah kalender, lalu beliau meneruskan ”Nih, foto pak SBY” jari telunjuk pak Sahono mengarah pada wajah sang presiden yang tampil perlente itu. Hanya satu tujuannya: meyakinkan banyak orang bahwa orang nomor satu — RI-1 yang diangkat secara sah dan menyakinkan sebagai pemenang pemilu 2004 ini, telah meresmikan sebuah lembaga dakwah bernama Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA).
Strategi dakwah ala pak Sahono ini boleh juga ditiru oleh warga MTA yang lain. Termasuk saya. Dengan cara itu, orang yang melecehkan dan memandang sebelah mata MTA akan mengalami kekalahan. Kalah 1:0.
Sekedar informasi saja, bisik-bisik dari tetangga, pak tentara kita ini rupanya telah mewakafkan sebagian tanahnya untuk markas kegiatan MTA di Blonotan.
Never ending fastabiqul khairat. (bersambung)
Harus diakui, bahwa sebagian warga MTA, khususnya yang belajar ngaji di MTA binaan Blonotan adalah mereka yang berangkat dari kelas ekonomi menengah ke bawah. Bukan berarti warga MTA tidak memiliki apa itu bodyguard. Bodyguard yang saya maksud adalah mereka yang biasanya mengawal dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) agar tetap aman dan nyaman dari serangan musuh.
Serangan musuh ini bisa dari berasal dari laut, udara dan darat. Bodyguard yang saya maksud adalah Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polisi Repubilk Indonesia (POLRI). Dua institusi yang dulu di sebut Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), di MTA Blonotan punya dua nama aparat dengan bedil siap menyalak di tangan.
Dua nama aparat di darat itu adalah Bapak Sahono, yang sehari-hari berdinas di Kodim Piyungan dan Bapak Wandi yang saat ini aktif di Polresta Yogyakarta. Dan yang satu lagi adala Bapak Hadi Santosa, TNI-AU yang saat bertugas di udara Lanud Adi Sucipto. Saat ini, yang belum ada dari TNI AL. Harap maklum, karena letak geografis berada di tengah sawah. Untuk sementara ini, komposisi warga MTA Blonotan ini makin beragam dan sempuran.
Yang pertama, marilah kita berkenalan dengan Bapak Sahono. Bapak satu ini adalah seorang anggota TNI aktif, yang setiap hariya berdinas di Kodim Piyungn. Suatu hari, secara diam-diam, dengan caranya sendiri, dia pernah mengadakan semacam survey kecil-kecilan perihal eksistensi MTA di tengah masyarakat.
Dari hasil jajak pendapat yang dilakukannya, beliau memberi kesimpulan bahwa lima belas orang yang ditanya, hanya lima orang diantaranya yang mengetahui apa itu Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA). MTA di mata mereka adalah baik. Kesan yang muncul setelah ada dialog antara mereka menyimpulkan, bahwa MTA itu organisasinya solid, guyup, rukun dan disiplin. Tentang disiplin ini, satu diantaranya mempertanyakan masalah absensi jamaah. Lha wong ngaji saja kok diabsen. Tidak lumrah. Kayak bocah sekolah, wae, bisik mereka penasaran.
Ketika banyak orang yang mempertanyakan, menghina, dan bahkan menghujat keberadaan lembaga dakwah MTA, Pak Sahono memberikan tip dan strategi jitu dan mujarab.
“Sodorkan kalender MTA tahun 2010” kedua tangan Pak Sahono terangkat, seolah dengan itu ia ingin menunjukkan bahwa ia sedang memegang sebuah kalender, lalu beliau meneruskan ”Nih, foto pak SBY” jari telunjuk pak Sahono mengarah pada wajah sang presiden yang tampil perlente itu. Hanya satu tujuannya: meyakinkan banyak orang bahwa orang nomor satu — RI-1 yang diangkat secara sah dan menyakinkan sebagai pemenang pemilu 2004 ini, telah meresmikan sebuah lembaga dakwah bernama Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA).
Strategi dakwah ala pak Sahono ini boleh juga ditiru oleh warga MTA yang lain. Termasuk saya. Dengan cara itu, orang yang melecehkan dan memandang sebelah mata MTA akan mengalami kekalahan. Kalah 1:0.
Sekedar informasi saja, bisik-bisik dari tetangga, pak tentara kita ini rupanya telah mewakafkan sebagian tanahnya untuk markas kegiatan MTA di Blonotan.
Never ending fastabiqul khairat. (bersambung)
Sabtu, 04 Juni 2011
Kisah Para Peluru (3)
1. Si Mbah Putri
Sinten asmané mbah?
Sebut saja dia si mbah putri. Dari cara jalanya yang sudah membungkung, saya taksir usianya sekitar 80-an tahun ke atas. Si mbah ini adalah prototipe manusia langka, the extraordinary-grandmother. Dengan energy ekstra sepuh-nya itu, dia begitu aktif dan selalu hadir on time dalam pengajian rutin jamaah MTA. Satu hal lagi, beliau selalu istiqomah hadir dalam majlis yang digelar satu minggu sekali itu.
Tidak hanya itu, beliau juga aktif melontarkan pertanyaan, di saat-saat jamaah sudah kehabisan amunisi pertanyaan.
“Nyuwun pirso pak Ustadz, nyuwun diterangaken artosipun surat Ad-dhuha.” Beginilah salah satu contoh pertanyaan si Mbah kita.
Satu detik kemudian, pak Ustadz meminta salah satu jamaah untuk membacakan surat Ad-Dhuha dan terjemahannya. Lalu, pak Ustadz menjelaskan makna dibalik ayat per ayat dalam surat Ad-Dhuha itu.
Di balik pertanyaan si Mbah kita ini, ternyata ada nuansa baru tanpa si Mbah sendiri menyadari. Bahwa dengan pertanyaan itu, beliau telah berjasa mengantarkan semacam credit point berupa seserepan (senilai ilmu hikmah) kepada jamaah yang lain.
“Matur sembah nuwun, pak Ustadz,” jawab Si Mbah puas, mengiringi dan mengamini penjelasan pak Ustadz.
Di luar pertanyaan itu, tidak jarang muatan pertanyaannya si Mbah ini sangat kritis dan kadang di luar pemikirannya bila dikaitkan dengan tingkat pengetahuan keagamaanya tidak kalah dengan anak-anak muda sekarang. Tapi upayanya itu haruslah tetap diapresiasi, dihargai.
Dengan langkah yang sudah membungkuk―sebuah isyarat bahwa sebentar lagi sang malaikat akan datang menjemputnya―si mbah menyadari sepenuh hati, bahwa ikut bergabung dengan majlis ini akan selalu memberikan inspirasi dan nilai tambah bagi investasi amalnya. Untuk alasan itu, si mbah selalu duduk paling depan, di belakang jamaah laki-laki. Sebuah keteladanan yang tidak semua orang bisa menirunya.
Melihat sosok si mbah yang ruaar biasa ini, mengingatkan saya akan sebuah kisah joke yang pernah dilontarkan baginda nabi SAW. Suatu ketika datanglah seorang nenek yang bertanya perihal surga. Kalau dilihat dari umurnya, boleh jadi si mbah penanya tentang surga kepada baginda nabi Muhammad SAW mungkin seusia nenek asal Blonotan ini.
“Apakah saya masuk surga?” tanya si nenek kepada baginda Nabi SAW.
“Di surga tidak ada nenek-nenek keriput seperti si mbah” canda utusan Allah tanpa bermaksud melecehkan pertanyaannya. Demi mendengar jawaban seperti itu, si nenek menjawab jengkel dan kemudian mendengus sambil menangis.
“Jangan menangis, nek” hibur Rasulullah, “Di surga tidak ada lagi orang keriput, yang ada hanya perawan. Di surga nanti nenek akan kembali menjadi perawan.”(bersambung...)
Sinten asmané mbah?
Sebut saja dia si mbah putri. Dari cara jalanya yang sudah membungkung, saya taksir usianya sekitar 80-an tahun ke atas. Si mbah ini adalah prototipe manusia langka, the extraordinary-grandmother. Dengan energy ekstra sepuh-nya itu, dia begitu aktif dan selalu hadir on time dalam pengajian rutin jamaah MTA. Satu hal lagi, beliau selalu istiqomah hadir dalam majlis yang digelar satu minggu sekali itu.
Tidak hanya itu, beliau juga aktif melontarkan pertanyaan, di saat-saat jamaah sudah kehabisan amunisi pertanyaan.
“Nyuwun pirso pak Ustadz, nyuwun diterangaken artosipun surat Ad-dhuha.” Beginilah salah satu contoh pertanyaan si Mbah kita.
Satu detik kemudian, pak Ustadz meminta salah satu jamaah untuk membacakan surat Ad-Dhuha dan terjemahannya. Lalu, pak Ustadz menjelaskan makna dibalik ayat per ayat dalam surat Ad-Dhuha itu.
Di balik pertanyaan si Mbah kita ini, ternyata ada nuansa baru tanpa si Mbah sendiri menyadari. Bahwa dengan pertanyaan itu, beliau telah berjasa mengantarkan semacam credit point berupa seserepan (senilai ilmu hikmah) kepada jamaah yang lain.
“Matur sembah nuwun, pak Ustadz,” jawab Si Mbah puas, mengiringi dan mengamini penjelasan pak Ustadz.
Di luar pertanyaan itu, tidak jarang muatan pertanyaannya si Mbah ini sangat kritis dan kadang di luar pemikirannya bila dikaitkan dengan tingkat pengetahuan keagamaanya tidak kalah dengan anak-anak muda sekarang. Tapi upayanya itu haruslah tetap diapresiasi, dihargai.
Dengan langkah yang sudah membungkuk―sebuah isyarat bahwa sebentar lagi sang malaikat akan datang menjemputnya―si mbah menyadari sepenuh hati, bahwa ikut bergabung dengan majlis ini akan selalu memberikan inspirasi dan nilai tambah bagi investasi amalnya. Untuk alasan itu, si mbah selalu duduk paling depan, di belakang jamaah laki-laki. Sebuah keteladanan yang tidak semua orang bisa menirunya.
Melihat sosok si mbah yang ruaar biasa ini, mengingatkan saya akan sebuah kisah joke yang pernah dilontarkan baginda nabi SAW. Suatu ketika datanglah seorang nenek yang bertanya perihal surga. Kalau dilihat dari umurnya, boleh jadi si mbah penanya tentang surga kepada baginda nabi Muhammad SAW mungkin seusia nenek asal Blonotan ini.
“Apakah saya masuk surga?” tanya si nenek kepada baginda Nabi SAW.
“Di surga tidak ada nenek-nenek keriput seperti si mbah” canda utusan Allah tanpa bermaksud melecehkan pertanyaannya. Demi mendengar jawaban seperti itu, si nenek menjawab jengkel dan kemudian mendengus sambil menangis.
“Jangan menangis, nek” hibur Rasulullah, “Di surga tidak ada lagi orang keriput, yang ada hanya perawan. Di surga nanti nenek akan kembali menjadi perawan.”(bersambung...)
Jumat, 03 Juni 2011
Kisah Para Peluru (2)
Pada sisi tertentu jelas mengganggu. Mengganggu bapak dan ibuny atau orang tuanya yang berasyik mansyuk, sedang konsentrasi dan khusuk menyimak penambangan atas eksplorasi kekayaan ilmu yang berserak di ladang ilmu Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA). Tapi dengan cara itu pula, dengan cara berbaur dalam satu mangkuk kebersamaan ini, anak-anak dilatih membiasakan diri dalam satu bait puisi bernama cinta Al-Qur’an.
Dengan yang sama pula, acara ini akan bisa menambah a cup of comfort kenikmantan kekeluargaan. Lalu sepersekian detik berikutnya akan naik satu oktaf keasyikan menuju arah aluran musik bernama ‘semranak’, dalam satu ikatan majlis pengajian. Jadilah majlis ini bukan pengajian, tapi sebuah majlis pengajian keluarga yang penuh hormone, penuh kedamaian, dan penuh keterharuan.
Jadi (sekali lagi: jadi) pengajian ini pada derajat tertentu adalah pengajian aliran sesat. Bukan aliran sesat yang banyak dituduhkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab itu. Arti sesat disini adalah tersesat ke dalam kebenaran ilahiah, sebuah kebenaran mutlak yang membuat orang semakin tersesat, tidak tahu jalan keluar dari kenikmatan ketersesatannya.
Mereka yang tersesat ini tidak tahu lagi, ke arah mana mereka harus kembali. Kembali ke suatu arah yang dulu pernah menjadi comfort zone mereka. Comfort zone (zona nyaman) itu bisa berupa: merokok itu nikmat, nimbrung di acara gendurenan atau slametan itu juga nikmat, karena pulang dapat brekat, dan lain-lain dan seterusnya.
Inilah sebagian kisah-kisah mereka: (bersambung..)
Dengan yang sama pula, acara ini akan bisa menambah a cup of comfort kenikmantan kekeluargaan. Lalu sepersekian detik berikutnya akan naik satu oktaf keasyikan menuju arah aluran musik bernama ‘semranak’, dalam satu ikatan majlis pengajian. Jadilah majlis ini bukan pengajian, tapi sebuah majlis pengajian keluarga yang penuh hormone, penuh kedamaian, dan penuh keterharuan.
Jadi (sekali lagi: jadi) pengajian ini pada derajat tertentu adalah pengajian aliran sesat. Bukan aliran sesat yang banyak dituduhkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab itu. Arti sesat disini adalah tersesat ke dalam kebenaran ilahiah, sebuah kebenaran mutlak yang membuat orang semakin tersesat, tidak tahu jalan keluar dari kenikmatan ketersesatannya.
Mereka yang tersesat ini tidak tahu lagi, ke arah mana mereka harus kembali. Kembali ke suatu arah yang dulu pernah menjadi comfort zone mereka. Comfort zone (zona nyaman) itu bisa berupa: merokok itu nikmat, nimbrung di acara gendurenan atau slametan itu juga nikmat, karena pulang dapat brekat, dan lain-lain dan seterusnya.
Inilah sebagian kisah-kisah mereka: (bersambung..)
Kamis, 02 Juni 2011
Kisah Para Peluru (1)
Angka 877 adalah angka kecepatan peluru senapan angin saat melesat menembus titik sasaran tembak. Dengan logika yang sama , angka 877 kilometer per jam adalah angka kecepatan sekaligus percepatan (acceleration) yang dimiliki warga pengajian Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA) binaan Blonotan, Piyungan, Bantul. Pengandaian Angka 877 adalah batas psikologis bila dikaitkan dengan tingkat kecepatan warga MTA dalam hal penyadaran (awareness) sebuah hakekat kebenaran bernama pelurusan aqidah.
Dengan kecepaan dan percepatan itu, mereka yang dulu adalah perokok kelas berat ketika sudah berkenalan dengan MTA, berubah drastis (180 derajat) tidak merokok sama sekali. Mereka yang dulunya rais majlis dzikir, dengan kecepatan yang sama, langsung undur diri dari forum yang membesarkannya itu, yang pada titik tertentu, jadilah ia bahan olok-olok, yang tak lebih dari sampah di tengah masyarakatnya.
Terlepas dari itu semua, setiap minggu sekali, para peluru ini memiliki sebuang ajang kumpul bareng (kajian kelompok). Ajang kumpul bareng ini adalah semacam mengisi ulang bateri (nge-charge) keimanan mereka.
Pada ajang ‘uji nyali’, ini lebih di titik-beratnya pada kajian ulang, atau lebih pasnya disebut sebagai ‘pendalam materi. Acara yang digelar tiap hari Sabtu ini, bukan sekedar kumpul-kumpul tetapi lebih pada ajang meningkatkan pemahaman dan pendalaman sebuah materi yang telah disampaikan ustadz pada ngaji sebelumnya, yakni hari Senin.
Secara psikologis kedekatan antar jamaah, ada hubungan emosional yang hangat, seperti persahabatan, kekerabatan, rasa kekeluargaaan, persaudaraan dan juga (jangan lupa!) kehangatan geneologis masalah yang sama: sama-sama merasakan pahit-manisnya menjadi the public enemy (musuh bersama) di tengah-tengah kampungnya sendiri. Bahkan tak jarang: istri, orang tua, mertua dan saudara-saudaranya sendiri adalah musuh utama di rumahnya sendiri. Menjadi musuh dalam selimut.
Durasi acara yang hanya 1 jam, ini benar-benar dimanfaatkan sebagai ajang curhat (curahan hati) atau sharing. Dari sharing inilah kemudian muncul sebuah hidden power (kekuatan tersembunyi) yang saling menguatkan dan merekatkan tali kasih diantara jamaah.
Mereka berasal dari latar belakang sosial, ekonomi dan politik yang berbeda. Mereka juga berasal dari arus besar (mainstream) yang berbeda, yakni NU (Nahdatul Ulama) dan Muhammadiyah. Dari sisi pekerjaan, mereka juga berasal dari profesi yang berbeda, seperti petani, pegawai negeri sipil (PNS), anggota TNI/Polri, pedagang, bahkan pelajar setingkat SMU.
Tidak hanya itu, mereka datang ke pengajian ini bersama anak dan istrinya, sebatih, sekeluarga. Yang justru terlihat di pengajian ini, lebih kepada acara rekreasi keluarga, sebuah makna lain dari wisata spiritual. Kadangkala di tengah asyik-asyiknya pengajian, seorang anak dengan jilbab kedodoran berlari mencari kemudian menggelayut manja di panggkuan bapaknya. Pada saat yang sama, si anak tadi, berlari lagi ke pangkuan ibunya. Begitu, terus berulang. Bila di jamaah ini ada dua sampai tiga anak, maka celoteh anak-anak ini beradu lantang dengan suara ustadz yang sedang mengumandangkan tausiahnya.
Pemandangan kontra-produktif ini apakah tidak mengganggu kegiatan mengaji?
Dengan kecepaan dan percepatan itu, mereka yang dulu adalah perokok kelas berat ketika sudah berkenalan dengan MTA, berubah drastis (180 derajat) tidak merokok sama sekali. Mereka yang dulunya rais majlis dzikir, dengan kecepatan yang sama, langsung undur diri dari forum yang membesarkannya itu, yang pada titik tertentu, jadilah ia bahan olok-olok, yang tak lebih dari sampah di tengah masyarakatnya.
Terlepas dari itu semua, setiap minggu sekali, para peluru ini memiliki sebuang ajang kumpul bareng (kajian kelompok). Ajang kumpul bareng ini adalah semacam mengisi ulang bateri (nge-charge) keimanan mereka.
Pada ajang ‘uji nyali’, ini lebih di titik-beratnya pada kajian ulang, atau lebih pasnya disebut sebagai ‘pendalam materi. Acara yang digelar tiap hari Sabtu ini, bukan sekedar kumpul-kumpul tetapi lebih pada ajang meningkatkan pemahaman dan pendalaman sebuah materi yang telah disampaikan ustadz pada ngaji sebelumnya, yakni hari Senin.
Secara psikologis kedekatan antar jamaah, ada hubungan emosional yang hangat, seperti persahabatan, kekerabatan, rasa kekeluargaaan, persaudaraan dan juga (jangan lupa!) kehangatan geneologis masalah yang sama: sama-sama merasakan pahit-manisnya menjadi the public enemy (musuh bersama) di tengah-tengah kampungnya sendiri. Bahkan tak jarang: istri, orang tua, mertua dan saudara-saudaranya sendiri adalah musuh utama di rumahnya sendiri. Menjadi musuh dalam selimut.
Durasi acara yang hanya 1 jam, ini benar-benar dimanfaatkan sebagai ajang curhat (curahan hati) atau sharing. Dari sharing inilah kemudian muncul sebuah hidden power (kekuatan tersembunyi) yang saling menguatkan dan merekatkan tali kasih diantara jamaah.
Mereka berasal dari latar belakang sosial, ekonomi dan politik yang berbeda. Mereka juga berasal dari arus besar (mainstream) yang berbeda, yakni NU (Nahdatul Ulama) dan Muhammadiyah. Dari sisi pekerjaan, mereka juga berasal dari profesi yang berbeda, seperti petani, pegawai negeri sipil (PNS), anggota TNI/Polri, pedagang, bahkan pelajar setingkat SMU.
Tidak hanya itu, mereka datang ke pengajian ini bersama anak dan istrinya, sebatih, sekeluarga. Yang justru terlihat di pengajian ini, lebih kepada acara rekreasi keluarga, sebuah makna lain dari wisata spiritual. Kadangkala di tengah asyik-asyiknya pengajian, seorang anak dengan jilbab kedodoran berlari mencari kemudian menggelayut manja di panggkuan bapaknya. Pada saat yang sama, si anak tadi, berlari lagi ke pangkuan ibunya. Begitu, terus berulang. Bila di jamaah ini ada dua sampai tiga anak, maka celoteh anak-anak ini beradu lantang dengan suara ustadz yang sedang mengumandangkan tausiahnya.
Pemandangan kontra-produktif ini apakah tidak mengganggu kegiatan mengaji?
Rabu, 01 Juni 2011
KENALKAN: NAMANYA IBU SRI [2]
2. Sekarang saya tidak sendirian di kampung.
Ibu Sri yang saya bayangkan, mungkin seperti sosok seorang ibu kita Kartini. Tahu dong, siapa ibu kita Kartini?
Ibu kita Kartini putri sejati, putri Indonesia harum namanya. Begitulah lagu yang selalu kita ingat apabila tanggal 21 April tiba. Hari itu adalah hari Kartini. Pada hari itu, dari anak TK sampai ibu-ibu kantoran memakai baju kebaya lengkap dengan sanggul sebesar ban bajaj bajuri (ah…fitnah itu!). Sehari berikutnya, biasanya diperingati sebagai hari Kartono (ah… fitnah lagi, maaf)
Trus… apa hubungannya antara sosok Ibu Kartini dan Ibu Sri? Kaitannya sangat erat. Erat sekali. Pertama, dua ibu itu sama-sama lahir di Jawa Tengah, sama-sama orang Jawa. Dari sini terus lahir istilah: nJawani (bahasa gaulnya: Jawa banget)
Kedua, sosok Ibu Kartini dan Ibu Sri ibu sama-sama sendiri atau sendirian berjuang di tengah kampungnya sendiri melawan apa yang kemudian dinamakan dengan ngowah-ngowahi adat.
Kalau ada persamaanya, tentu ada perbedaannya, dong. Apa itu perbedaannya?
Perbedaan itu terletak pada tanggal kelahirannya. Kalau lahirnya ibu Kartini jelas diperingati seluruh rakyat Indonesia, yang telah berjasa sebagai sosok perjuang wanita tanpa senjata. Yang bisa membuka gelapnya dunia wanita Indonesia di masa lalu.
Pertanyaannya: kalau tanggal kelahiran Ibu Sri, siapa yang mau memperingati, ya?
Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya - sekarang juga… 3x.
Kalau tetep ngeyel ...ULTAH?! itu artinya, menyalahi aturan main (rule of game) fitrah atau khittah MTA. Hahaha.
Seperti saya tulis pada alenia pertama pada KENALKAN: NAMANYA IBU SRI [1], bahwa sebuah kecantikan itu tidak hadir dengan sendirinya. Ia tidak berdiri sendiri sebagai “cantik” itu sendiri. Ia tidak tunggal. Ia memerlukan campur tangan orang lain. Sebuah cantik memerlukan bedak, gincu, sampo, sabun dan seperangkat alat kecantikan lainnya.
Demikian juga dengan perasaan Ibu Sri yang merasa sendiri. Ada tangan yang tak terlihat (invisible hand) yang menggerakkan tangan ibu, yang membisiki hati ibu, yang mengompor-ngompori nurani ibu, untuk apa? Untuk sesuatu, yang boleh jadi bagi ibu kurang ada artinya, tidak memberikan credit point untuk mengerek karier ibu menuju puncak, atau tidak menjadikan ibu jadi kaya raya, misalnya.
Menulis SMS untuk saya, mengomentari sesuatu yang kelihatannya sangat sepele itu — tapi sesungguhnya tidak sepele. Tidak sepele artinya penting. Lantas, letak pentingya atau ketidaksepeleannya di mana?
Warga MTA Purworejo adalah kelompok minoritas di sana. Mereka (warga MTA Purworejo itu) seperti anak tiri di kampungnya sendiri. Sebagai anak tiri, tentu diperlakukan tidak sama dengan anak kandungnya sendiri. Sebagai anak tiri, perlakuan yang sering menyakitkan menjadi lauk pauk melengkapi menu makanan sehari-hari.
Ibu kita Kartini dari Klaten ini menumpahkan rasa jengkel, rasa mengkel dan rasa empatinya atas kezholiman sekelompok orang Islam (baca sendiri nama organisasi itu) kepada saudara kandungnya sendiri. Saudara kandung dalam rahim kalimat tauhdi ‘La Ilaha illallah Muhammadur Rasulullah,’ yang tak lain adalah warga MTA Purworejo.
Pada momen itulah, tanpa Ibu Sri sendiri menyadari, ada tangan yang tak terlihat (invisible hand) yang membersamai ibunya Bara ini (pengumuman: Bara ini anak kandungnya Ibu kita ini). Itulah tangan seniman Maha Agung dan Maha Kreatif, Allah SWT yang mempertemukan Ibu Sri dengan saya. Kemudian dari sini, Allah meminjamkan tangan-Nya, yang Maha Lembut itu menuliskan apa-apa yang menjadi keresahan dan kerisauan yang berkecamuk di dada saya: yang tak lain adalah berkecamuknya mayoritas warga MTA di seluruh Indonesia
Berkecamuknya resah dan gelisah itu, juga terbaca dan dibaca oleh beberapa pasang mata di belahan dunia lain, sebuah dunia yang boderless. Tidak hanya dibaca oleh seorang ibu Sri sendiri yang tinggal di pojok desa di Kabupaten Klaten. Tapi, juga ada beberapa pasang mata lain di belahan dunia Barat sana, tepatnya di California, Amerika Serikat. Ada juga dari Norwegia, Jepang, Taiwan, dan lain-lainnya yang sedang mengintip tulisan ini.
Ketika kesendirian itu dimaknai sebagai sesuatu yang tunggal, sebenarnya ada Diri yang lain yang senantiasa mengawasi dan mengurus kita: Dia-lah mengurus hidup kita selama 24 jam. Tidak hanya 24 jam, yang bisa diartikan sebagai seorang penjaga toko, ada shift siang dan ada shift malam. Akan tetapi, Allah mboten sare. Dia yang senantiasa online, dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali, terus menerus sepanjang hayat masih dikandung badan. Dialah yang tidak pernah tidur dan mengantuk...(QS-2:155).
Dia-lah juga yang: Huwal awwalu wal aakhiru, waz zaahiru wal batatin(u)... (QS-57:3). Dia yang bertahta di Arsy itu adalah Dzat yang tidak terlihat oleh mata telanjang, tapi bisa dirasakan oleh mata batin bagi siapa pun yang dikehendaki-Nya.
Agar terasa indah dan lebih terkoneksi (connected) dengan apa yang saya sampaikan, izinkan saya mencuplik sebagian kisah film berjudul Cast Away. Sebuah film yang mengisahkan seseorang yang diperankan Tom Hanks, yang terdampar di sebuah pulau. Tidak ada orang lain di pulau itu selain dirinya sendiri. Suatu ketika ia ingin membelah kelapa untuk menyantap isinya. Karena tidak ada pisau atau golok, ia lalu membanting-banting kelapa tadi ke atas batu-batu. Lama sekali ia membenturkan kelapa,tapi tidak juga terbelah. Hingga suatu saat, tiba-tiba justru batunya yang pecah. Apa yang terjadi? Ia melihat kepingan batu yang pecah itu pinggirnya tajam. Batu akhirnya ia jadikan kapak untuk membelah kelapa. Akhirnya ia berhasil minum air kelapa dan makan dagingnya.
Kesendirian ibu Sri, juga kesendirian warga MTA seluruh Indonesia dalam mengusung tema kembali ke Al-Qur’an dan As-Sunnah (back to Qur’an), seperti Tom Hanks di film Cast Away itu.
Keajaiban, dalam hal ini, nusrutullah (pertolongan Allah) datang setelah ada benturan. ..…Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong dan meneguhkan kedudukanmu (QS-47:7). Benturan Tom Hank menghasilan kepingan batu tajam, jadilah kapak. Benturan ibu Sri dengan kesendirian menghasilan kebahagiaan (baca kembali: KENALKAN: NAMANYA IBU SRI [1])
Sekarang, jadilah ibu Sri tidak sendirian lagi. (bersambung...)
Ibu Sri yang saya bayangkan, mungkin seperti sosok seorang ibu kita Kartini. Tahu dong, siapa ibu kita Kartini?
Ibu kita Kartini putri sejati, putri Indonesia harum namanya. Begitulah lagu yang selalu kita ingat apabila tanggal 21 April tiba. Hari itu adalah hari Kartini. Pada hari itu, dari anak TK sampai ibu-ibu kantoran memakai baju kebaya lengkap dengan sanggul sebesar ban bajaj bajuri (ah…fitnah itu!). Sehari berikutnya, biasanya diperingati sebagai hari Kartono (ah… fitnah lagi, maaf)
Trus… apa hubungannya antara sosok Ibu Kartini dan Ibu Sri? Kaitannya sangat erat. Erat sekali. Pertama, dua ibu itu sama-sama lahir di Jawa Tengah, sama-sama orang Jawa. Dari sini terus lahir istilah: nJawani (bahasa gaulnya: Jawa banget)
Kedua, sosok Ibu Kartini dan Ibu Sri ibu sama-sama sendiri atau sendirian berjuang di tengah kampungnya sendiri melawan apa yang kemudian dinamakan dengan ngowah-ngowahi adat.
Kalau ada persamaanya, tentu ada perbedaannya, dong. Apa itu perbedaannya?
Perbedaan itu terletak pada tanggal kelahirannya. Kalau lahirnya ibu Kartini jelas diperingati seluruh rakyat Indonesia, yang telah berjasa sebagai sosok perjuang wanita tanpa senjata. Yang bisa membuka gelapnya dunia wanita Indonesia di masa lalu.
Pertanyaannya: kalau tanggal kelahiran Ibu Sri, siapa yang mau memperingati, ya?
Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya - sekarang juga… 3x.
Kalau tetep ngeyel ...ULTAH?! itu artinya, menyalahi aturan main (rule of game) fitrah atau khittah MTA. Hahaha.
Seperti saya tulis pada alenia pertama pada KENALKAN: NAMANYA IBU SRI [1], bahwa sebuah kecantikan itu tidak hadir dengan sendirinya. Ia tidak berdiri sendiri sebagai “cantik” itu sendiri. Ia tidak tunggal. Ia memerlukan campur tangan orang lain. Sebuah cantik memerlukan bedak, gincu, sampo, sabun dan seperangkat alat kecantikan lainnya.
Demikian juga dengan perasaan Ibu Sri yang merasa sendiri. Ada tangan yang tak terlihat (invisible hand) yang menggerakkan tangan ibu, yang membisiki hati ibu, yang mengompor-ngompori nurani ibu, untuk apa? Untuk sesuatu, yang boleh jadi bagi ibu kurang ada artinya, tidak memberikan credit point untuk mengerek karier ibu menuju puncak, atau tidak menjadikan ibu jadi kaya raya, misalnya.
Menulis SMS untuk saya, mengomentari sesuatu yang kelihatannya sangat sepele itu — tapi sesungguhnya tidak sepele. Tidak sepele artinya penting. Lantas, letak pentingya atau ketidaksepeleannya di mana?
Warga MTA Purworejo adalah kelompok minoritas di sana. Mereka (warga MTA Purworejo itu) seperti anak tiri di kampungnya sendiri. Sebagai anak tiri, tentu diperlakukan tidak sama dengan anak kandungnya sendiri. Sebagai anak tiri, perlakuan yang sering menyakitkan menjadi lauk pauk melengkapi menu makanan sehari-hari.
Ibu kita Kartini dari Klaten ini menumpahkan rasa jengkel, rasa mengkel dan rasa empatinya atas kezholiman sekelompok orang Islam (baca sendiri nama organisasi itu) kepada saudara kandungnya sendiri. Saudara kandung dalam rahim kalimat tauhdi ‘La Ilaha illallah Muhammadur Rasulullah,’ yang tak lain adalah warga MTA Purworejo.
Pada momen itulah, tanpa Ibu Sri sendiri menyadari, ada tangan yang tak terlihat (invisible hand) yang membersamai ibunya Bara ini (pengumuman: Bara ini anak kandungnya Ibu kita ini). Itulah tangan seniman Maha Agung dan Maha Kreatif, Allah SWT yang mempertemukan Ibu Sri dengan saya. Kemudian dari sini, Allah meminjamkan tangan-Nya, yang Maha Lembut itu menuliskan apa-apa yang menjadi keresahan dan kerisauan yang berkecamuk di dada saya: yang tak lain adalah berkecamuknya mayoritas warga MTA di seluruh Indonesia
Berkecamuknya resah dan gelisah itu, juga terbaca dan dibaca oleh beberapa pasang mata di belahan dunia lain, sebuah dunia yang boderless. Tidak hanya dibaca oleh seorang ibu Sri sendiri yang tinggal di pojok desa di Kabupaten Klaten. Tapi, juga ada beberapa pasang mata lain di belahan dunia Barat sana, tepatnya di California, Amerika Serikat. Ada juga dari Norwegia, Jepang, Taiwan, dan lain-lainnya yang sedang mengintip tulisan ini.
Ketika kesendirian itu dimaknai sebagai sesuatu yang tunggal, sebenarnya ada Diri yang lain yang senantiasa mengawasi dan mengurus kita: Dia-lah mengurus hidup kita selama 24 jam. Tidak hanya 24 jam, yang bisa diartikan sebagai seorang penjaga toko, ada shift siang dan ada shift malam. Akan tetapi, Allah mboten sare. Dia yang senantiasa online, dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali, terus menerus sepanjang hayat masih dikandung badan. Dialah yang tidak pernah tidur dan mengantuk...(QS-2:155).
Dia-lah juga yang: Huwal awwalu wal aakhiru, waz zaahiru wal batatin(u)... (QS-57:3). Dia yang bertahta di Arsy itu adalah Dzat yang tidak terlihat oleh mata telanjang, tapi bisa dirasakan oleh mata batin bagi siapa pun yang dikehendaki-Nya.
Agar terasa indah dan lebih terkoneksi (connected) dengan apa yang saya sampaikan, izinkan saya mencuplik sebagian kisah film berjudul Cast Away. Sebuah film yang mengisahkan seseorang yang diperankan Tom Hanks, yang terdampar di sebuah pulau. Tidak ada orang lain di pulau itu selain dirinya sendiri. Suatu ketika ia ingin membelah kelapa untuk menyantap isinya. Karena tidak ada pisau atau golok, ia lalu membanting-banting kelapa tadi ke atas batu-batu. Lama sekali ia membenturkan kelapa,tapi tidak juga terbelah. Hingga suatu saat, tiba-tiba justru batunya yang pecah. Apa yang terjadi? Ia melihat kepingan batu yang pecah itu pinggirnya tajam. Batu akhirnya ia jadikan kapak untuk membelah kelapa. Akhirnya ia berhasil minum air kelapa dan makan dagingnya.
Kesendirian ibu Sri, juga kesendirian warga MTA seluruh Indonesia dalam mengusung tema kembali ke Al-Qur’an dan As-Sunnah (back to Qur’an), seperti Tom Hanks di film Cast Away itu.
Keajaiban, dalam hal ini, nusrutullah (pertolongan Allah) datang setelah ada benturan. ..…Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong dan meneguhkan kedudukanmu (QS-47:7). Benturan Tom Hank menghasilan kepingan batu tajam, jadilah kapak. Benturan ibu Sri dengan kesendirian menghasilan kebahagiaan (baca kembali: KENALKAN: NAMANYA IBU SRI [1])
Sekarang, jadilah ibu Sri tidak sendirian lagi. (bersambung...)
Ada Geert Wilders di Purworejo (2-habis)
Zaman berganti, karakter Abu Jahal tak pernah mati. Dia bisa benda hidup atau juga benda mati. Tidakkah kita merasa bahwa selama ini kita ternyata dikelilingi juga oleh benda-benda yang berpotensi untuk menjadi ‘Abu Jahal Modern” yang mengusung spirit syetan. (Mukhammad Fahrudin, Republika, 23/8/2008)
Geert Wilders, Salman Rushdie, Theo van Gogh, Kurt Westergaard atau yang lainnya adalah reinkarnasi dari ‘Abu Jahal abad Modern’ itu. Dengan memakai ayat-ayat setan dengan kapasitas dan proporsi yang nyaris sama, mereka telah menimbulkan amarah sejumlah orang, khususnya umat Islam. Gaung protesnya pun menggema di sudut-sudut masjid dan musholla di belahan dunia Islam.
Hari-hari ini, tepatnya dalam dua pekan terakhir menjelang laga Peresmian MTA Cabang Purworejo, Selasa 17 Mei 2011, Geert Wilders dan kawan-kawan (tanpa sepengetahuan pemerintah) hadir mengunjungi warga Purworejo. Dia datang ke Purworejo didampingi serombongan kebencian dan amunisi kemarahannya dengan misi yang sama: menyobek dan membuang — bukan setengah Al-Qur’an, tapi cukup satu - dua ayat Al-Qur’an yang tidak sesuai dengan ajaran kitab dari nenek moyang mereka.
Warga MTA di Purworejo mengalami goncangan yang dahsyat. Setelah penolakan PC NU Purworejo (Suara Merdeka 01/04/11) Ketua PBNU Prof Said Agel Siradj menulis kolom opini harian Jawa Pos (05/04/11) bahwa jamaah MTA secara militan menghadang jamaah pengajian yang akan mengadakan yasinan dan tahlilan. Tuduhan itu tidak benar dan bahkan mengarah kepada fitnah. Apalagi dia juga menulis bahwa telah terjadi aksi tawuran. Jamaah MTA adalah jamaah yang suka mengalah dan tidak suka keributan. Ketika 57 warga MTA diusir dari rumah mereka dan dianiaya kelompok tertentu di Blora, tidak ada seoranga pun yang membalas. Di Purworejo warga MTA tersebar di 16 kecamatan dan 82 desa, tidak pernah ada diantara mereka yang konflik dengan masyarakat sekitar. Jangan sampai penulisan opini justru memicu konflik. (Uswah Hasanah, Buletin Jum’ah MTA Online No 212/Th VI. Edisi 15/04/11).
Dengan setting politik yang sama, sebagaimana nenek moyangnya, yakni penjajah Belanda, yang mewariskan ajaran “devide et empera” (politik memecah belah) itu. Si Londo Ireng (baca: Belanda Jawa) ini berhasil menyebarkan ketakutan di tengah masyarakat Purworejo. Sebagai akibatnya pengajian binaan MTA Purworejo terpaksa harus pindah dari Wisma Cinde Laras. Jawaban MTA atas pemberitaan di Jawa Pos, Kamis 14 April 2011 ternyata belum cukup mampu meredakan ketegangan. Bahkan muncul penolakan atas kehadiran MTA di Pengen Tengah, Kec. Purworejo, Kab. Purworejo. Sebab kehadiran MTA telah menjadi ancaman serius bagi kehidupan masyarakat Purworejo. Padahal MTA hanyalah sebuah lembaga dakwah yang mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah. (Uswah Hasanah, Buletin Jum’ah MTA Online No 214/Th VI. Edisi 29/04/11).
Titik sasaran tembak yang tidak lain adalah target utama (main target) Geert Wilders van Java ini telah terpenuhi. Titik sasaran tembak itu adalah opini publik telah terbeli meski dengan cara membantai orang lain. Opini public telah terbeli seperti terbelinya seekor kerbau yang dicocok hidungnya. Bahwa MTA seolah seperti monster yang nilai kehadirannya harus dicegah karena akan membawa dampak buruk bagi tata nilai yang sudah tertata baik di masyarakat.
Bagi kelompok Islam garis keras, tindakan Wilder dan kawan-kawannya ini merupakan penistaaan yang harus dibalas. Tapi bagi kelompok moderat mereka dianggap tidak lebih dari opportunis yang mempromosikan ketakutan dan kebencian.
MTA bukan dari kelompok garis keras, juga bukan kelompok moderat. MTA berada ditengah-tengahnya. Karena berada ditengah-tengahnya, maka MTA tidak membalas penistaan itu, pun juga tidak membenci apalagi takut dengan beragam ancaman lengkap dengan fitnah-fitnahnya. Yang dilakukan gerakan dakwah MTA adalah mengalah untuk menang.
Apa itu mengalah untuk menang? Mengalah untuk menang adalah metode seorang baby sister untuk ‘ngemong’ anak asuhnya — meskipun buah hati itu bukan miliknya — dengan mengerahkan segala bujuk rayu plus rayuan gombalnya, dengan satu tujuan: agar si anak tidak menangis. Itulah puncak prestasi sekaligus puncak kebahagiaan seorang baby sister.
Anak senang, ibu senang, bapak senang. Semua senang. Bangun pagi-pagi sarapan jenang. Demikian baby sister bernyanyi sambil mengendong ‘buah hati’ milik orang lain. (habis)
Geert Wilders, Salman Rushdie, Theo van Gogh, Kurt Westergaard atau yang lainnya adalah reinkarnasi dari ‘Abu Jahal abad Modern’ itu. Dengan memakai ayat-ayat setan dengan kapasitas dan proporsi yang nyaris sama, mereka telah menimbulkan amarah sejumlah orang, khususnya umat Islam. Gaung protesnya pun menggema di sudut-sudut masjid dan musholla di belahan dunia Islam.
Hari-hari ini, tepatnya dalam dua pekan terakhir menjelang laga Peresmian MTA Cabang Purworejo, Selasa 17 Mei 2011, Geert Wilders dan kawan-kawan (tanpa sepengetahuan pemerintah) hadir mengunjungi warga Purworejo. Dia datang ke Purworejo didampingi serombongan kebencian dan amunisi kemarahannya dengan misi yang sama: menyobek dan membuang — bukan setengah Al-Qur’an, tapi cukup satu - dua ayat Al-Qur’an yang tidak sesuai dengan ajaran kitab dari nenek moyang mereka.
Warga MTA di Purworejo mengalami goncangan yang dahsyat. Setelah penolakan PC NU Purworejo (Suara Merdeka 01/04/11) Ketua PBNU Prof Said Agel Siradj menulis kolom opini harian Jawa Pos (05/04/11) bahwa jamaah MTA secara militan menghadang jamaah pengajian yang akan mengadakan yasinan dan tahlilan. Tuduhan itu tidak benar dan bahkan mengarah kepada fitnah. Apalagi dia juga menulis bahwa telah terjadi aksi tawuran. Jamaah MTA adalah jamaah yang suka mengalah dan tidak suka keributan. Ketika 57 warga MTA diusir dari rumah mereka dan dianiaya kelompok tertentu di Blora, tidak ada seoranga pun yang membalas. Di Purworejo warga MTA tersebar di 16 kecamatan dan 82 desa, tidak pernah ada diantara mereka yang konflik dengan masyarakat sekitar. Jangan sampai penulisan opini justru memicu konflik. (Uswah Hasanah, Buletin Jum’ah MTA Online No 212/Th VI. Edisi 15/04/11).
Dengan setting politik yang sama, sebagaimana nenek moyangnya, yakni penjajah Belanda, yang mewariskan ajaran “devide et empera” (politik memecah belah) itu. Si Londo Ireng (baca: Belanda Jawa) ini berhasil menyebarkan ketakutan di tengah masyarakat Purworejo. Sebagai akibatnya pengajian binaan MTA Purworejo terpaksa harus pindah dari Wisma Cinde Laras. Jawaban MTA atas pemberitaan di Jawa Pos, Kamis 14 April 2011 ternyata belum cukup mampu meredakan ketegangan. Bahkan muncul penolakan atas kehadiran MTA di Pengen Tengah, Kec. Purworejo, Kab. Purworejo. Sebab kehadiran MTA telah menjadi ancaman serius bagi kehidupan masyarakat Purworejo. Padahal MTA hanyalah sebuah lembaga dakwah yang mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah. (Uswah Hasanah, Buletin Jum’ah MTA Online No 214/Th VI. Edisi 29/04/11).
Titik sasaran tembak yang tidak lain adalah target utama (main target) Geert Wilders van Java ini telah terpenuhi. Titik sasaran tembak itu adalah opini publik telah terbeli meski dengan cara membantai orang lain. Opini public telah terbeli seperti terbelinya seekor kerbau yang dicocok hidungnya. Bahwa MTA seolah seperti monster yang nilai kehadirannya harus dicegah karena akan membawa dampak buruk bagi tata nilai yang sudah tertata baik di masyarakat.
Bagi kelompok Islam garis keras, tindakan Wilder dan kawan-kawannya ini merupakan penistaaan yang harus dibalas. Tapi bagi kelompok moderat mereka dianggap tidak lebih dari opportunis yang mempromosikan ketakutan dan kebencian.
MTA bukan dari kelompok garis keras, juga bukan kelompok moderat. MTA berada ditengah-tengahnya. Karena berada ditengah-tengahnya, maka MTA tidak membalas penistaan itu, pun juga tidak membenci apalagi takut dengan beragam ancaman lengkap dengan fitnah-fitnahnya. Yang dilakukan gerakan dakwah MTA adalah mengalah untuk menang.
Apa itu mengalah untuk menang? Mengalah untuk menang adalah metode seorang baby sister untuk ‘ngemong’ anak asuhnya — meskipun buah hati itu bukan miliknya — dengan mengerahkan segala bujuk rayu plus rayuan gombalnya, dengan satu tujuan: agar si anak tidak menangis. Itulah puncak prestasi sekaligus puncak kebahagiaan seorang baby sister.
Anak senang, ibu senang, bapak senang. Semua senang. Bangun pagi-pagi sarapan jenang. Demikian baby sister bernyanyi sambil mengendong ‘buah hati’ milik orang lain. (habis)
Langganan:
Postingan (Atom)