Senin, 13 Juni 2011

Harga Setetes IMan (2)

Penasaran?simak kisahnya berikut ini.

Sebenarnya, pembunuhan itu yang sudah direncanakan dengan rapi terhadap seorang lelaki dari kasta Brahmana. Otak pembunuhan, atau lebih tepatnya aktor intelektual dibalik rencana busuk itu, ternyata bukan sembarang orang, the extraordinary-man. Lelaki bertangan dingin itu tak lain adalah pamannya sendiri. Sang paman menginginkan, ‘akulah sang algojo’ demikian sang paman berkata kepada dirinya sendiri, yang akan mengeksekusi untuk memenggal leher keponakan yang telah murtad dari ajaran agama nenek moyangnya itu. Hindu.

Hanya satu hal yang diinginkan sang paman. Sang paman membayangkan, betapa darah merah yang masih hangat dan segar itu muncrat dari leher keponakannya, lalu membasahi wajah, merambat pelan memandikannya. Sang paman bermandikan darah. Darah itu laksana parfum kasturi perlambang diterimanya ‘aksi pembunuhan sadis’ dihadapan para dewa-dewinya seligus tuhannya.

“Inilah persembahanku yang paling agung wahai dewa-dewiku”, teriak sang paman puas.

Di balik kalbu yang paling dalam, nun jauh disana, hati sang paman berbisik “Inilah pembalasan atas pengkhiatan yang telah kau lakukan cah bagus. Dasar pengkhianat”

Blue print rencana pembunuhann itu sudah meletup-letup di otak sang paman. Maka dibawalah sang keponakan itu masuk ke dalam sebuah kamar gelap. Detik-detik menegangkan berlalu. Si keponakan diikat pada sebuah kursi. Sebelum akhirnya, sang paman memberikan satu permintaan terakhir, siapa tahu si keponakannya mau bertobat dan kembali kepada keyakinan asalnya, agama Hindu.

Rupanya tak ada kata menyerah pada diri keponakannya. Yang justru terjadi adalah dia semakin kukuh untuk tidak mau kembali ke ajaran nenek moyangnya. Sebersit keraguan muncul di sana, sebelum memutuskan untuk mengeksekusi sang keponakan. Sekali lagi ia pandangi sosok lelaki dihadapannya ini. Dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Dengan sangat hati-hati, ditutupilah sepasang mata keponakannya dengan secarik kain. Cara ini ditempuh untuk menyembunyikan kegugupannya sebagai bentuk penghormatan terakhir terhadap sang keponakan, sekaligus sebagai sebentuk kasih sayang. Bagaimanapun juga si anak durhaka yang ada dihadapannya dan yang akan dibunuh ini adalah darah dagingnya sendiri, sama-sama memiliki darah biru dari garis keturunan kasta tertinggi dan terhormat: Kasta Brahmana.

Dengan penuh perhitungan dan sangat hati-hati, dengan harapan sakaratul maut keponaknnya ini berakhr dengan happy ending (baca: khusnul khotimah). Dengan harapan yang sama, dia juga tidak ingin, sakaratul maut ini dintip oleh orang lain termasuk keponakannya sendiri, bahkan malaikat maut sendiri pun kalau bisa jangan mengintip dan ikut campur.

Sepersekian detik kemudian, seberkas cahaya masuk dari celah daun pintu. Aksi pembunuhan itu gagal dilakukan. Sesosok tubuh berkelebat dibalik keremangan malam muncul secara misterius, seiring daun pintu didobrak. (bersambung...)

Minggu, 12 Juni 2011

Harga Setetes IMan (1)

Dalam olah disiplin rohani, ada garis merah yang sangat tegas — mungkin semacam police line (garis polisi) yang biasanya dipasang di tempat kejadian perkara (TKP), bahwa iman adalah bagian yang tak terpisahkan dari amal. Dalam bahasa Arab, kata “iman” memiliki arti “menjadi aman.” Dalam alam kesadaran umat Islam, iman selalu berhubungnan dengan ilmu.

Dengan demikian, ketika iman sudah tertanam lalu tertancap kuat di dada, itu artinya kita menjadi aman. Aman dalam hal apa? Aman dalam hal apapun, karena dalam iman itu, Allah SWT selalu membersamai orang beriman itu sendiri. Karena, seperti kita tahu, “qolbun muslimin baitullah”, hati orang beriman itu adalah rumahnya Allah. Dan, kalau mau merujuk kepada satuan tempat, maka tempat yang paling aman bagi manusia di dunia ini adalah Ka’bah (QS-2:125)

Tidak heran, bila iman sudah berguncang di dada, maka cita-cita tertinggi berikutnya adalah membuat appointment dengan Allah untuk mendekati titik paling aman di dunia: bersegera memenui undangan-Nya untuk menunaikan ibadah haji.

Iman itu harganya mahal, Bung. Maka kisah tentang sukses akses hidayah seorang Pendeta Hindu dari kasta Brahmana ini mudah-mudahan jadi buah bibir. Menjadi bibir yang menginspirasi banyak orang Islam untuk mulai menyadari. Sebuah kesadaran yang merupakan entry point untuk sesekali keluar dari rumah kita. Oh… ternyata kita perlu juga lo ..sesekali saja keluar dari rumah kita. Keluar rumah kita untuk mengambil jarak. Oh ternyata dari luar atap rumah kita ada yang bocor. Di tempat lain, tembok di belakang rumah kita ada yang mulai mengelupas.

Dari pemahaman ini, kita dapat menarik benang merah kesimpulan, bahwa apa yang selama ini kita anggap benar ternyata belum dan tidak benar menurut sumber aslinya. Kita kurang dapat informasi dari pihak luar yang lebih tahu, lebih kompeten dan lebih mengerti. Untuk itu kita perlu second opinion, semacam pendapat orang lain yang tahu duduk permasalahan yang sesungguhnya. Taruhlah dalam hal ini Ustadz H. Abdul Aziz, yang nota benenya adalah orang luar di rumah kita. Dia-lah yang tahu: ternyata rumah kita itu bocor, rumah
kita itu mengelupas temboknya, dan perlu segera diperbaiki.

Dari kisah ini pula, seorang saya yang lahir dan besar di lingkungan keluarga super fanatik nahdliyin (baca: warga NU) pada akhirnya harus menyadari, bahwa apa yang selama ini saya anggap sebagai bid’ah hasanah — mulai pendake, nyatuse, nyewune dan kawan-kawan — itu ternyata bagian dari agama Hindu.

Menyadari kekeliruan seperti itu, seolah saya menjadi manusia yang paling malu, tersinggung sekaligus marah. Komposisi ketika perasaan itu campur aduk seperti gado-gado rasa balado. Sangat boleh jadi, dengan komposisi yang sama tapi dengan tingkat kepedasan yang berbeda, perasaan seperti itu juga dialami dan dikunyah dengan perasaan berbeda pula oleh kebanyakan warga MTA di seluruh Indonesia.

Sepersekian menit sehabis nonton VCD ini — yang kisahnya saya format ulang menjadi ‘read a story’ di bawah ini — saya langsung tertunduk diam. Dalam diam itu, saya menyatakan sekaligus memproklamasikan sebuah negeri atas koloni diri saya sendiri dengan status MERDEKA. Merdeka artinya ‘putus hubungan’ dengan “pendake bin nyatuse bin nyewune beserta anak cucu dan cicitnya.

Pada saat yang sama, ketika saya berstatus sebagai ‘muallaf’ dalam hal menjauhi agama nenek moyang itu, sebuah mulut harimau sudah siap menghadang dan menerkam saya bulat-bulat dan mentah-mentah, persis di depan saya. Selang beberapa hari kemudian, ada tetangga meninggal dunia. Ini artinya, nyala iman ini harus saya pertanggungjwabkan. Dengan kata lain, seekor harimau dengan mulut menganga lebar bernama caci makian dari masyarakat dengan cakar-cakar kuku yang tajam itu siap mencabik-cabik saya Jadilah saya pesakitan di tengah kampung saya sendiri.

Inilah harga keimanan yang harus saya bayar mahal.

Acara tujuh hari, yang biasanya dimulai hari geblak-e (meninggalnya si mayit), yang diisi dengan bacaan tahlil dan yasinan, secara resmi tidak saya ikuti. Dengan demikian, saya menjadi alien, makhluk aneh di kampungnya sendiri.
(bersambung ...)

Sabtu, 11 Juni 2011

Ritus Persalinan yang Mendebarkan (3)

Hikmah Di Balik Tragedi Purworejo

Dokter : “Selamat Ya. Bayi Anda telah lahir. Sehat dan Lengkap. Bayi Anda Kembar Enam.”

Warga MTA :“Terima kasih dok, Dokter telah membantu persalinan yang mendebarkan ini dengan lancar.

Dokter yang baik itu menulisakan beberapa kalimat pendek pada secarik kertas, yang bunyinya kurang lebih begini: Pada hari ini, Ahad, 5 Juni 2011, atas nama Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA), bertempat di Gedung Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), telah lahir enam bayi mungil dengan nama-nama sebagai berikut:

1. MTA Perwakilan Purworejo,
2. MTA Cabang Pituruh, Purworejo.
3. MTA Cabang Kasihan Kabupaten Bantul,
4. MTA Cabang Piyungan Kabupaten Bantul.
5. MTA Cabang Rongkop Kabupaten Gunungkidul.
6. MTA Cabang Nanggulan Kabupaten Kulon Progo.

Gedung Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu berdiri gagah dan angkuh. Keangkuhan dan kegagahan gedung dengan daya tambung 10 ribu-an lebih pengunjung ini, bisa terlihat sangat jelas pada beberapa batang pilar-pilar raksasa yang menghunjam ke bumi, dengan ketinggian menjulang. Seolah pilar-pilar itu adalah kaki-kaki raksasa yang mengambil sikap seorang pendekar Shaolin dengan formasi pasang kuda-kuda, yang siap mengawal saudara kandungnya (baca: warga MTA) dalam frekuensi yang sama, sama-sama dalam hal pelurusan aqidah. Sama-sama sebagai anak kandung Wahabi itu.

Dengan posisi sikap “welcome” — yang tak lain senyum adalah sedekah itu — kegagahan gedung berbiaya ± 13 milyar ini terasa nyaman ketika terik matahari semakin panas menggoreng tiap kepala warga MTA, yang tak kebagian duduk di dalam gedung. (Salah sendiri kenapa tidak datang sebelum Subuh?)

Inilah gedung “Sang Kakak” — silakan baca artikel Sang Adik itu bernama MTA — tempat persalinan agung itu terjadi. Gedung inilah, suatu saat, apabila bayi-bayi ini sudah besar akan senantias bertasbih: “wa tawasaw bil haqqi wa tawasaw bis sabr” (QS-103:3). Dengan tasbih itu, bayi-bayi ini akan tumbuh besar dan semakin besar.

After that, akan mampu mengguncang dunia dengan cara yang sudah dipakemkan Sang Dalang: “Wa qul jaa al haqqu wa zahaqal baatati(lu) innal baatila kaana zahuuqa(n)” (QS-17:81). Dengan mantap dan yakin, langkah-langkah kecil nan mungil sang bayi kembar ini, pasti dan pasti, akan banyak yang mengikutinya untuk dijadikan panutan bagi generasasi berikutnya (next generation). Inilah generasi yang akan digadang-gadang menggantikan generasi Gayusiana (tokoh paling licik dan licin pada awal abad 21 ini). Sebuah generasi yang pada hari-hari ini telah mencoreng wajah ibu pertiwi menjadi bopeng-bopeng.

(Bersambung...)

Jumat, 10 Juni 2011

Ritus Persalinan yang Mendebarkan (2)

Hikmah Di Balik Tragedi Purworejo
 
Sebuah rekomendasi dokter, sebuah resep yang tertulis tidak beraturan itu datang. Hanya orang-orang tertentu yang bisa membaca tulisan sebuah resep itu. Dan resep itu, menurut mata telanjang kita seperti tulisan tangan anak SD yang baru belajar menulis: ini budi, ini bapak budi, ini ibu budi. Kating penthalit, jungkir balik. Huruf A seharusnya terbaca A, tapi tertulis Z. Huruf Z bentuknya tidak lagi seperti Z, tapi seperti huruf U, dan lain sebagainya.

Rekomendasi atau resep itu memang membingungkan bagi siapa saja yang membaca. Tapi, tidak! Ya, tidak bagi orang yang sudah faham. Faham akan kebiasaan sang dokter menulis dengan tulisan tangan seperti itu. Orang yang sudah faham itu namanya apoteker. Dengan cekatan, tidak menunggu lama, sang apoteker segera berlari ke belakang. Sepersekian detik, obat sudah ada di tangan.

Sang Dokter tahu dan faham betul bahwa sang jabang, memang belum saatnya lahir. Dan yang lebih penting lagi, kelahiran sang jabang bayi itu, memang tidak harus di tanah tumpah darah kelahirannya sendiri, Purworejo. Tapi harus di tempat lain.

Sebuah rekomendasi yang tak lain adalah resep dari langit itu berbunyi: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Bagarah [2]:216).

Orang-orang ramai itu bernama Keluarga besar warga Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA). Menjelang detik-detik kelahiran, keluarga besar ini dengan dada berguncang, menunggu dengan harap-harap cemas ritus persalinan yang mendebarkan itu. Rekomendasi Sang Dokter memutuskan bahwa Sang Jabang Bayi tidak jadi lahir pada hari Selasa Kliwon, 17 Mei 2011.

Segenap keluarga besar MTA seluru Indonseia, luruh, tertunduk lesu. Diam. Seperti mengheningkan cipta dalam ritual tahunan upacara tujuh belas Agutusan. Dalam keterdiaman itu, resep berupa pil pahit itu atas rekomendasi itu, memang harus di telan mentah-mentah (dalam bahasa kasar Jawa Timuran dikenal dengan istilah menguntal = menelan). Karena itulah satu-satu resep paling mujarab yang harus ditelan.

Pahit memang. Tapi itulah rasa obat. Tidak ada obat yang manis. Kalau itu obat manis: ada rasa jeruk, rasa peppermint, rasa strawberry, rasa mangga dan lain-lain, itu mah cocok untuk anak-anak. PENGUMUMAN! Keluarga besar warga Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA) itu bukan anak-anak lagi. Persisnya tidak punya mental anak-anak. Cengeng, mudah nangisan, mudah menyerah, dan mudah marah.

Atas rekomendasi Sang Dokter Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana, yang tidak pernah dzolim terhadap pasien-pasien-Nya, Sang Dokter menyarankan: setelah minum pil pahit itu, sebaiknya bersegeralah untuk meminum segelas air putih yang automatically, akan segera menetralisir, meredekan dan sekaligus menghilangkan rasa pahit obat tersebut. Obat penetralisir itu adalah …” Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu,dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang telah diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri. (Al-Hadid [57]:23).
(Bersambung ..)

Kamis, 09 Juni 2011

Ritus Persalinan yang Mendebarkan (1)

Hikmah Di Balik Tragedi Purworejo

Melalui teknologi uji klinis ultrasonografi atau lebih sering dikenal dengan istilah USG — sebuah teknik diagnostik untuk pengujian struktur badan bagian dalam yang melibatkan formasi bayangan dua dimensi dengan gelombang ultrasonik (KBBI, Edisi Ketiga, 2003) — sebuah (atau seorang, ya?) janin yang masih dalam kandungan/rahim seorang ibu bisa diketahui dan didetekti sejak dini: apakah jenis kelamin si bayi itu perempuan atau laki-laki. Dengan teknologi itu pula, hari perkiraan lahir (HPL) bisa diketahui dengan tingkat presisi yang nyaris tepat.

Menurut hitungan weton berdasarkan primbon HPL itu, usia kandungan Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA) Purworejo itu, seharus lahir pada hari Selasa Kliwon, 17 Mei 2011. Namanya juga HPL, maka hari perkiraan lahir itu bisa maju bisa mundur, bisa juga tepat. Maju kena mundur kena, kata Warkop.

Dari hasil teknologi uji klinis USG juga, jabang bayi yang akan lahir nanti, ternyata tidak hanya MTA Perwakilan Purworejo saja, tapi ada kembaran lainnya, yaitu MTA Cabang Pitutuh, Kab. Purworejo. Artinya ada bayi kembar yang akan lahir dari rahim MTA Purworejo ini.
Kabar akan lahirnya bayi kembar bernama MTA Perwakilan dan Cabang di Purworejo ini, tersebar luas. Sebaran good news, kabar baik, tentu saja membuat sanak kadang MTA di penjuru Tanah Air, disambut dengan perasaan suka cita: sumringah, bungah, dan deg-deg sar.

Siapa sih, yang tidak happy, mendengar ada saudaranya akan menerima momongan?

Man proposes but God disposes, manusia merencanakan tapi Tuhan yang menentukan.

Detik-detik penantian kelahiran sang jabang bayi sudah di depan mata. Segala uba rampe dengan segala tetek bengeknya mesti dipersiapkan dengan matang. Ada kebahagiaan yang tak bisa ditulis dengan kata-kata, selagi tangis jabang bayi merah itu terdengar di sana. Seorang ibu adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Seorang ibu adalah nyawa itu sendiri. Seorang ibu adalah ‘toh nyowo toh pati’, merelakan seutas nyawanya sendiri untuk sang buah hati.

Darah merah pasti mengalir mengiringi prosesi agung itu. Darah itu merah, Jendral. Warna darah dan aroma darah yang tercecer di antara lengkingan tangis jabang bayi adalah alunan irama music super cadas, music heavy metal, dan music trash metal. Orkestra nan agung itu memecah kesunyian untuk menandai detik-detik yang menegangkan itu telah berakhir.

Seorang ayah, yang sejak beberapa detik berdiri mematung disudut ruang, menyeret kakinya mendekati sang istri tercinta. Ia pegang tangan sigaraning nyawa itu penuh kelembutan. Mengelus rambutnya yang kusut tak beraturan. Mengecup keningnya. Mengusap dua anak sungai yang mengaliri pipinya yang berbedak itu.
Fasilitas super mewah yang sejak beberap bulan lalu, sudah ready for use, digelar layaknya karpet merah untuk menyambut tamu agung. Fasilitas mewah itu terdari dari sabun, bedak, minyak telon, ember tempat mandi bayi, grito, popok, pempes, dan boks bayi.

Sepersekian menit menjelang proses kelahiran sang jabang bayi pun telah tiba. Komposisi perasaan suka-cita: sumringah, bungah, dan deg-deg sar atas kabar kelahiran itu, hancur berkeping-keping. Tidak ada mendung tidak ada hujan. Kabar itu seperti disambar geledek di siang hari bolong. Dunia seperti runtuh. Kiamat seolah dipercepat sekian menit dari sekarang. (bersambung…)

Rabu, 08 Juni 2011

Kisah Para Peluru (tamat)

5. Bapak Zunaidan

Di artikel “MTA, Yang Saya Tatahu” pertengahan Mei 2011 yang lalu, secara sekilas profil Bapak Zunaidan sudah saya tampilkan. Tak ada salahnya, bila kali ini Bapak yang satu ini saya tampilkan lagi, semata untuk memberikan kontribusi keteladanan bagi warga MTA yang lain

Bapak Zunaidan adalah salah satu warga MTA yang paling aktif. Selama saya bergabung dengan MTA, belum pernah sekalipun dia absen. Yang membedakan antara pak Zunaidan dan jamaah pria lainya adalah pecisnya. Dengan performance berpecis inilah, saya mudah menemukannya yang selalu hadir on time dan on line. On time, karena dia selalu hadir tepat waktu, mendahului teman-teman yang lain. On line, karena posisi duduknya selalu pada posisi yang sama, sebuah posisi duduk yang bisa face to face, menatap langsung wajah sang ustadz. Seolah dengan cara itu, ia ingin mendapatkan semacam berkah ilmu dari sang guru. Atau dengan kata lain, transfer of knowledge-nya lebih mudah masuk dan lebih mudah diamalkan sepulang ‘ngaji’.

Akselerasi keaktifannya, pada skala tertentu adalah sebentuk kompensasi atas ketidaksetujuan keluarganya, atau lebih tepatnya kebencian keluarganya terhadap ajaran baru MTA . Beliau hanya ingin menunjukkan, apa yang selama ini dianggap tradisi baik itu ternyata bukan dari Islam, agama nenek moyang, yang notabenenya adalah perpanjangan tangan ajaran agama Hindu.

Dalam hal menjaga jarak atau menjauhi ajaran nenek moyang, sebut saja acara itu dengan petang puluhe bin nyatus bin nyewu, maka semua warga MTA secara umum pernah mengalami dan merasakan bagaimana rasanya menjadi makhluk alien (aneh) di tengah warga kampungnya sendiri. Tidak hanya dianggap aneh, tapi juga dikucilkan sebagai ora umume wong, ngowah-ngowahi adat, dan olok-olok seru dan saru lainnya.

Demikian juga dengan pak Zunaidan ini. Dia tidak hanya dimusuhi oleh orang kampungnya sendiri. Di tengah keluarganya, dia juga menjadi duri dalam daging. Ayah dan ibunya begitu benci dengan ajaran baru yang ngowah-ngowahi adat itu. Tapi pak Zunaidan tetap kukuh dan kokoh memanjakan ‘inner beauty’ imannya di salon kecantikan rohani bernama ‘ngaji’ di MTA.

Meski kedua orang tuanya membencinya, ia tetap memanjakan orang tuanya dengan metode birul walidain menurut versi dan kapasitas pak Zunaidan sendiri. Tentu saja, dengan metode atau cara yang tidak mengingkari hukum gravitasi sunnah. Menurut bapak … anak ini, bisa saja saya membelikan rokok dua sampai tiga bungkus per hari. Tapi, masih menurut pak Zunaidan, itu namanya inkarus sunnah. Meskipun bapak saya tergolong perokok yang sudah mencapai stadium 3 alias perokok kelas berat. Sebagai kompensasinya, ia membelikan bapaknya itu dengan sebotol susu (ah kayak bayi aja). Selain lebih sehat, kaya gizi, nutrisinya lengkap, dan yang jelas: tidak kena serangan jantung.

Itulah salah satu sisi kecerdikan pak Zunaidan. Dengan cara & strategi khusus itu, pak Zunaidan berharap, mau tidak mau bapaknya dalam kurun waktu tertentu, bapaknya segera berhenti melakukan kebiasaan buruk itu, seperti yang dilakukan oleh KH. A Mustofa Bisri atau Gus Mus.

“Kowe ngaji neng Blonotan iku, entuk apa to le-le, neng Blonotan iku apa ana kyai?” keluh ibundanya, mencoba mengindoktrinasi putra kesayangannya ini, dengan harapan sang putra tidak ngaji lagi di Blonotan. Kemudian ibundanya meneruskan “Ngaji iku sing bener ora ning Blonotan, tapi sing luwih bener ya neng Wonokromo , sing akeh kyaine”

Pertanyaan sang bunda tidak dipungkiri memang benar, dan seratus persen memang benar. Ya, benar, memang benar. Apa arti sebuah kampung bernama Blonotan itu. Dan apa arti sebuah kampung bernama Wonokromo. Seolah dari nama kampung Wonokromo itu, ada lorong pintu yang terbuka lebar, dan di sana ada tulisan yang tidak lain merupakan password: Pintu Masuk Surga. Gratis!

Selidik punya selidik, terus terang, saya belum pernah menemukan satu ayat pun dalam Al-Qur’an atau bunyi satu Hadist pun yang menyatakan, “bagi yang ingin surga, masuklah melalui salah satu pintu kampung. Kampung itu bernama Wonokromo.

Tawa dengan skala berbahak-bahak pun meledak, memenuhi seluruh ruangan, memberikan kesejukan seolah semilir udara yang keluar dari air condition (AC) dari langit, memberikan nuansa kekeluargaan di rumah pak Marsudi, tempat diskusi kelompok Sabtu sore itu diadakan.
Statement ibunda pak Zunaidan itu bisa dikategorikan sebagai sebuah ‘Smart question!

Untuk sementara, kisah para peluru saya akhiri sampai di sini. Sebenarnya masih ada tokoh-tokoh super aneh yang akan mewarnai blantika music pergerakan dakwah pelurusan aqidah ini. Pada kisah berikutnya, saya akan menulis tentang “ritus persalinan” yang mendebarkan itu. Sebuah ritus persalinan yang terjadi pada hari Ahad, 5 Juni 2011, di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Yogyakarta. Saudara tua satu frekuensi keimanan dalam hal me-rebonding aqidah. (tamat)

Selasa, 07 Juni 2011

Kisah Para Peluru (6)

4. Bapak Rusmono

Bapak dua puteri ini adalah seorang guru di sebuah SMA, Gunungkidul. Dari penuturannya, sudah hampir 1 tahun ini dia ikut bergabung dengan MTA.
Dari pak Rus (sapaan akrabnya), saya baru tahu bagaimana strategi atau jurus jitu menyiasati atau menolak undangan puji tahlil itu.

Menurut bapak Guru ini, ada 3 (tiga) tahapan penolakan menghadapi hajatan tradisi yang dianggap baik atau sering juga disebut dengan bid’ah hasanah. Tahap pertama — ini khusus bagi pemula (kelas beginner) atau yang masih malu-malu. Artinya belum punya kesiapan mental atau belum berani menghadapi tantangan di tengah masyarakat — berikan seribu satu alasan (sebenarnya satu saja cukup, nggak usah sampai seribu alasan) bahwa pada hari H acara itu, katakan begini: nyuwun pangapunten, kulo wonten acara.
Tahap kedua — ini khusus bagi yang setengah berani (kelas intermediate). Miliki no hp sesama warga MTA. Setelah itu kirim SMS, yang isinya : mohon miscall saya pada hari … jam …. Maksud sms ini adalah taktik atau cara pengelabuhan dan pengaburan (semacam adegan kamuflase untuk mengelabuhi lawan), agar punya satu alasan (ingat tahap pertama dengan seribu alasan) untuk menghindari acara atau undangan puji tahlil itu.
Tahap ketiga — ini khusus bagi para pemberani (kelas advance) — datangi, atau tepatnya dekati dengan pendekatan silaturahim yang semranak (seperti sowannya seorang anak kepada bapaknya yang lama tidak pernah bertemu) kepada tokoh-tokoh masyarakat yang disepuhkan. Tokoh-tokoh itu bisa pak ketua RT, pak Dukuh, pak Kaum, atau siapa saja yang dianggap punya pengaruh di masyarakat. Selanjutnya, katakan kepada para tokoh itu, bahwa acara puji tahlil itu tidak ada tuntunannya.

Setelah melakukan ketiga tahapan diatas, siap tidak siap, tunggu untuk beberapa hari minimal seminggu. Anda akan menjadi orang terkenal di seantero kampung. Anda akan menjadi celebrity kampungan atau pahlawan kesiangan. Karena pada hari itu juga Anda akan dinobatkan sebagai the man of the day, jadi orang terkenal pada hari itu. Anda akan jadi pusat perhatian. Tidak hanya itu, Anda menjadi bahan olok-olokan, sebagai orang yang NGOWAH-NGOWAI ADAT, ORA UMUME WONG, dll.

Menggambarkan tiga tahapan strategi ini, pak Rus sangat berapi-api, sangat bersemangat, seperti memuntahkan sebuah amarah dari dalam dadanya. Bagi yang pertama kali bertemu dengan pak Rus ini, berbicara dengan beliau layaknya seperti mau ditampar saja. Ini harap dimaklumi, karena passion-nya terhadap hal-hal yang berbau pelurusan akidah sangat besar.

Saya katakan berapi-api, karena saat ini, pak Rus memang sedang hot-hotnya memegang bara api, sebuah bara keimanan yang persis pernah disinyalir Nabi SAW lima belas abad lalu. Karena membawa bara itulah, saat ini – tepatnya sejak pak Rus bergabung dengan MTA - ia menjadi semacam public enemy (musuh bersama) sekaligus target man di tengah-tengah masyarakatnya.

Di tengah mayoritas masyarakat yang mengamalkan ajaran nenek moyang itu, pak Rus berdiri sendiri sebagai ‘single fighter’ (petarung tunggal) menentang arus besar bernama tahlilan, sebuah tradisi Hindu yang dulu diadopsi oleh para wali yang kemudiaan diritualkan layaknya sebuah ajaran Islam. Jangan ditanya berapa kilogram amunisi ‘caci maki’ yang telah ditembakkan ke muka pak Rus.

Asal tahu saja, pak Rus mengaku bahwa dirinya sebelum bergabung dengan MTA, adalah pentolan aktif sebuah majlis dzikir di tengah masyarakat urban (perkotaan) di Yogyakarta. Sebagai ketua majlis dzikir, yang tentu saja disepuhkan oleh komunitasnya, dia sudah menduduki posisi apa yang dinamakan comfort zone, sebuah posisi nyaman yang punya kharisma, dihormati dan punya bargaining position (posisi tawar) yang kuat di tengah jamaahnya.
(bersambung)