Senin, 20 Juni 2011

Ritus Persalinan yang Mendebarkan (4)

Proses persalinan bayi-bayi itu atau lebih tepatnya peresmian 6 perwakilan dan cabang itu tidak hanya disaksikan 30 ribuan jamaah atau warga. Tapi disaksikan juga oleh sejumlah tokoh yang punya kompetensi dan profesionalitas dalam membidani kelahiran generasi penyelamatan aqidah. Tokoh-tokoh itu adalah KH. Amrullah Ahmad (MUI Pusat), KH. Thoha Abdurrahman (MUI DIY), Prof. Dr. Zeanal Arifin Adanan (MUI Suraktata) dan Ketua Umum MTA Drs. Ahmad Sukino.

Inilah kelahiran yang spektakuler. Saya katakan spektakuler. Karena sepengetahuan saya, belum ada dalam sejarah persalinan, sekali mak projot keluar bayi kembar enam. Inilah hasil poligami yang fenomenal dan fantastik itu.

Poligami ?

Ya... benar Poligami yang fenomenal dan fantastik. Saya katakan poligami, di mana letak logikanya. Logikanya begini:

Sang ayah adalah MTA Pusat. Sementara MTA Kabupaten Purworejo adalah istri pertama. Dari sini lahir dua bayi kembar: perwakilan Purworejo dan Cabang Pituruh.
Istri Kedua adalah MTA Kabupaten Bantul. Dari rahim ibu Bantul ini lahirlah dua bayi kembar: MTA Cabang Piyungan dan MTA Cabang Kasihan.

Istri Ketiga adalah MTA Kabupaten Gunungkidul, yang melahrikan MTA Cabang Rongkop.
Istri Keempat adalah MTA Kabupaten Kulon Progo, yang melahirkan MTA Cabang Nanggulan.

Ah..ngawur itu.

Ah.. ah.. ada ada aza zaa.

Itulah cara sehat mengambil hikmah, semacam “blessing in disguise”. Selalu ada udang di balik rempeyek, ‘kan. Maksudnya, selalu dan selalu ada hikmah di balik bencana. Sekecil apapun hikmah itu, pasti ada. Ada deh? Dan semua itu, sangat tergantung pada selera humor, sense of humor, masing-masing orang. Semakin tinggi tingkat humornya, maka semakin tinggi pula tingkat kesintingan orang tersebut. Termasuk penulis blog ini, kali. Hi..hi..hi

Sebab kata orang (baca: KBBI 2008), humor adalah kemampuan merasai sesuatu yang lucu atau menyenangkan. Humor dinyatakan sebagai keadaan yang menggelikan hati, kejenakaan atau kelucuan. Kemampuan seseorang “menikmati” humor sangat ditentukan oleh penghayatannya terhadap kehidupan dan pengalaman emosionalnya.

Salah satu obat stress yang paling ampuh adalah humor karena ia dapat menggelitik hati, sehingga membuat orang senang dan tertawa. Tetapi tidak setiap tertawa disebabkan karena rasa senang. Tergelitik badan orang juga dapat membuat orang tertawa. Orang yang menghirup gas (baca: kentut, maaf), juga dapat tertawa berbahak-bahak. Namun jelas tidak menyehatkan.

Tawa yang terjadi spontan dapat memperbaiki fungsi pembuluh darah. Tidak heran bila semua orang sepakat bahwa tertawa itu menyehatkan. Kemampuan seseorang merasai sesuatu yang lucu dari suatu pembicaraan sangat tergantung kepada tingkat pendidikan, tingkat kecerdasan, latar belakang budaya, pengalaman hidup dan keterkaitannya dengan topik yang disampaikan.

Tidak semua humor dapat membuat orang tertawa. Bagi yang modern dan cerdas, menertawakan dan ditertawakan itu sama-sama membuat orang senang.

Man sana en korporesano (salah tulis, kali).

Didalam tubuh yang sehat ada jiwa yang sehat. Di dalam jiwa yang sehat ada tertawa yan sehat. Betul nggak.
NGGAAAAAK!!!

Untuk itu marilah kita tertawa bersama-sama. HA HA HA

(Bersambung….)

Minggu, 19 Juni 2011

Harga Setetes Iman (8-Habis)

Ternyata, si smart girl yang saya ceritakan di atas bukan sembarang gadis. Buktinya, baru satu ayat yang saya sodorkan tentang ajaran nenek moyang dan segala tetek bengek tradisinya, dia sudah minta lagi bukti yang lain agar lebih mantap dan lebih yakin akan kepala dan ekor ikan tadi.

Kepala dan ekor ikan yang saya maksud dalam terminology ‘THE MTA WAY’ tentu saja amalan-amalan yang tidak ada tuntunan baik dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah.

Maka sebagai gantinya, si gadis saya minta meng-explore sendiri ayat-ayat yang berkaitan dengan tradiri nenek moyang itu, yang antara lain adalah berikut:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban” (QS-17:36)

“Dan apabila dikatan kepada mereka , “Ikutilah apa yang diturunkan Allah!” Mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami (hanya mengikuti) kebiasaan yang kami dapat dari nenek moyang kmai.” Apakah mereka (akan mengiktui nenenk moyang merka) walaupun ksebenarnaya setan menyeru meraka ke dalamazab api yang menayla (neraka)? (QS-31:21)

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, mereka berkata, “Orang-orang ini tidak lain hanya ingin menghalang-halangi kami dari apa yang disembah oleh nenek moyangmu,” dan mereka berkata, “(Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan saja.” Dan orang-orang kafir berkata terhadap kebenaran ketika kebenaran (Al-Qur’an) itu datang kepada mereka, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” (QS-34:43)

Sesungguhnya mereka mendapati nenek moyang mereka dalam keadaan sesat.Lalu mereka tergesa-gesa mengikuti jejak (nenek moyang) mereka. (QS-37: 69-70)

Dan sesungguhnya mereka (orang-orang kafir Mekah) benar-benar pernah berkata. “Sekiranya di sisi kami ada sebuah (kitab-kitab yang diturunkan) kepada orang-orang terduhulu.Tentu kami akan menjadi hamba Allah yang disucikan (dari dosa). Tetapi ternyata mereka mengingkari (Al-Qur’an): maka kelak mereka akan mengetahui (akibat keingkarannya itu). (QS-37: 167-170)

Bahkan mereka berkata, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami mendapat petunjuk untuk mengikuti jejak mereka.” (QS-43: 22)

Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engaku (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata ”sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami mengiktui suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekedar pengikut jejek mereka. (QS-43: 23)

(Rasul itu) berkata, “Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih baik dari pada apa yang kamu peroleh dari (agama) yang dianut nenek moyangmu.” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami mengingkari (agama) yang kamu diperintahkan untuk menyampikannya.” (QS-43: 24)

Tamat

Sabtu, 18 Juni 2011

Harga Setetes Iman (7)

Adrenalin kepenasaran si smart girl ini sudah sampai di ujung ubun-ubunnya. After much delibration she made up his mind. Lalu si ABG ini menjatuhkan diri ke tanah, selanjutnya berlutut, bersimpuh di pangkuan nenek buyutnya. Di pangkuan sang nenek buyutnya yang masih menyisakan garis-garis kecantikan itu, sembari tersenyum dan mengelus kepala si cucu, sang nenek buyut akhirnya menjawab:

“Nduk,” bisiknya lembut ”kenapa kepala dan ekor ikan itu harus dipotong”

“Kenapa ... kenapa... nek?” desak sang cucu tidak sabaran.

“Karena .... panci-panci zaman dulu itu ukuranya kecil, nduk. Jadi kalau nggak dipotong, nggak muat”

Ooooo....

Si Cewek manggut-manggut. Penasaranya terjawab sudah. Kisah inspiratif itu bisa dibuka kembali di buku “GROW WITH CHARACTER”, Champion Stories: 40 Inspirasi Keteladanan dan Kepemimpinan. Oleh: Alexander Mulia dkk, Gramedia PU, 2011.

Bahwa seringkali kita begitu menelan mentah-mentah apa saja yang kita terima, berupa kebiasaan atau tradisi yang dilimpahkan secara tururn temurun. Padahal di luar sana sudah ada mBah Google dengan segala ke-mahatahuannya itu.

Dengan sering sowan ke mBah Google itu, dengan hanya ketik kata kuncinya setengah detik kemudian berbagai informasi bisa langsung kita dapat. Atau kalau mau tanya ke mBah dukun yang lebih sakti ? Ada kok. Tapi, syaratnya harus bawa amplop lebih tebal. Untuk apa?

Mahal tau!

Si mbah dukun yang lebih sakti itu namanya Google Voice Search, atau azimat bernama aplikasi lain bisa melalui smartphone lainnya, semacam BlackBerry, iPhone, dan Android. Tak perlu lagi main tak-tik-tuk pada keyboard, cukup katakan langsung pada si mBah-mbah itu.

Apa yang dilakukan si cewek seharusnya dilakukan juga oleh kita. Kita mestinya men-challenge what we know — challenge our habits, seperti saya kutip pada buku “GROW WITH CHARACTER”.

Dengan men-challenge what we know — challenge our habits itu, kita akan menelisik untuk mengetahui letak logika kebenaran dan relavansinya dengan kebenaran itu sendiri berdasarkan kenyataan yang ada. Lebih-lebih kenyataan itu terkait dengan realitas religi yang jelas-jelas termaktub dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Kisah di atas, sebenarnya saya tulis untuk menyindir sebuah tradisi yang sudah turun menurun yang dilakukan dari satu generasi ke generasi berikutnya, tanpa tahu ujung pangkalnya. Seperti sebuah lingkaran syetan. Yang terjadi adalah kita ngikut saja. Anut grubyuk. Tanpa reserve. Tanpa ba-bi-bu menanyakan kebenaran akan realitas itu.

Kalau saja si smart girl tadi itu adik saya, atau tetangga saya, atau adik ipar saya, atau keponakan saya, pasti dia ajak ngaji di MTA Cabang Piyungan yang barusan di resmikan pada hari Ahad, 5 Juni 2011 yang lalu.
Cewek ABG itu akan saya tunjukkan ke arah, di mana MTA Cabang Piyungan itu berada. Bila ada waktu silakan, tiap hari Sabtu sore jam 4-an, datang saja ‘tuk hang out (nongkrong untuk ngaji, maksudnya).

Di komunitas MTA ini, akan saya sodorkan sebuah realitas dari langit yang berbunyi sebagai berikut:
“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan” (QS-6:116)

(bersambung..)

Jumat, 17 Juni 2011

Harga Setetes IMan (6)

Bagaimana dengan Iman Warisan?

“Iman Perjuangan” dengan Iman Warisan bedanya sangatlah jauh. Bumi dan langit. ”Iman Warisan” terwaris dari orang tua kita secara langsung. Kita lahir Islam karena orang tua kita Islam. Namanya juga warisan, Begitu lahir “mak cenger”: bayi merah itu langsung di-adzani, lalu di-iqomati.
Sampai hitungan detik ke detik, hari ke hari, bulan ke bulan dan tahun ke tahun, ia — Iman Warisan itu — tumbuh dan berkembang dalam kemanjaan fasilitas dari orang tua-nya. Ia adalah iman dengan kesadaran penuh, lalu mengamini apa saja dan menurut saja apa yang diwariskan oleh kedua orang tua-nya.

Kalau saja kedua orang tua si bayi itu tinggal di sebuah rumah, di sebuah kampung bernama Muhammadiyah 3-K, harga keimanannya tidak ada yang perlu dipersoalkan. Sekedar mengingatkan saja lho, bahwa isitilah kampung Muhammadiyah 3-K itu merujuk pada sebuah tempat legendaris yang terdiri dari Kauman, Karangkajen, dan Kotagede. 3-K ini merupakan basis kekuatan utama pergerakan Muhammadiyah. (Ahmad Adaby Darban, 2000). Dengan kata lain, kampung 3-K ini sudah bersih dari berbagai praktek keagamaan dan kegiatan budaya yang oleh Muhammadiyah dikategorikan sebagai perbuatan tahayul, bid’ah dan churafat (TBC movement, pen).

Bagaimana kalau iman warisan itu tumbuh dan berkembang di luar kampung Muhammadiyah 3-K. Kampung outer circle (lingkaran luar) Muhammadiyah 3-K ini adalah kampung dengan segudang kegiatan bernuansa Islam rasa Hindu. Islam rasa Hindu ini dengan kata lain adalah ada ritual-ritual khusus yang sesungguhnya laisa minal Islam, antara lain bernama: pendake, nyatuse, nyewune dan kawan-kawan sejeninya, yang pokok-e (pokoknya) dan jarene (katanya) si embah-embah.

Andai saja di wilayah zona aman (comfort zone) pada distrik outer circle Muhammadiyah 3-K, iman warisan itu tidak berbenturan dengan sebuah tanda tanya besar: [?], maka keimanannya itu patut dipertanyakan (QS-29:2-3).
Untuk memandu apakah barang paling mewah berupa IMAN itu, baterainya pada posisi empty, low, middle, atau bahkan full. “Test case” nukilan kisah seorang cewek genit, usil and bandel berikut ini patut disimak. Sebab boleh jadi kisah ini menjadi alat bantu (barometer) untuk kemudian angkat tangan trus bertanya dengan dada penasaran: kenapa setiap kali memasak sang Bunda selalu memotong ekor dan kepala ikan? Ia — cewek bandel bin usil — meneruskan rasa penasarannya itu dengan tidak hanya bertanya pada ibunya, tapi juga kepada neneknya bahkan buyutnya. Untuk apa? Untuk arti sebuah adrenalin berupa penasaran itu sendiri.

Adrenalin penasaran yang diyakini cewek itu sebut saja dengan “challenge what we know”. Semacam menelisik apa yang selama ini menjadi hantu atau roh gentayangan dan kepenasaran itu. Yuuk kita simak aja kisahnya berikut ini.

Konon ada seorang cewek yang penasaran bukan alang kepalang. (Perhatian: alang kepalang bukan nama binatang lho, tapi kembaran dari pusing tujuh keliling) kenapa setiap memasak ikan, sang bunda selalu memotong ekor dan kepala ikan. Bukankah memotong ekor dan kepala ikan yang dibuang percuma itu tindakan mubazir?

Si cewek bertanya kepada ibunya,” Bu, kok kepala dan ekor ikan dibuang sih? Kan Sayang? Ibunya tersenyum, “pertanyaan bagus nduk. Karena ibu juga tidak tahu jawabannya. Loh kok bisa? Ternyata ibunya melakukan itu hanya karena kebiasaan turun temurun dari leluhurnya.

Karena penasaran, si cewek datang ke rumah neneknya. Dengan cara yang sama, sang nenek melakukan hal yang sama seperti sang bunda. Sudah bisa ditebak, nenek buyut pun tak tahu alasannya kenapa ekor dan kepala ikan mesti dipotong. Jawabanya sama: Itu hanya kebisaan turun-temurun dari leluhurnya. Al-hasil rasa kepenasaran si cewek semakin besar

Si Cewek tak patah arang. Ia terus mencari jawaban atas pertanyaan: kenapa ekor dan kepala ikan harus dipotong ketika dimasak. Akhirnya, dia mendatangi sang nenek buyut. Masih dengan cara yang sama, sang nenek buyut melakukan hal yang sama pula seperti sang nenek. Sudah bisa ditebak, nenek buyut pun tak tahu alasannya kenapa ekor dan kepala ikan mesti dipotong.

Apakah adrenalin kepenasaran cewek itu berhenti sampai di sini atau di situ?

Ternyata tidak!

(bersambung...)

Kamis, 16 Juni 2011

Harga Setetes IMan (5)

Antara Iman Perjuangan dan Iman Warisan

Kisah tentang ustadz H. Abdul Aziz di atas adalah kisah tentang seorang muallaf yang lahir dari pergulatan batin bernama ‘Iman Perjuangan’. Sisi lain dari kisah muallaf ini, juga bisa dilacak dan dibaca pada sosok Dr. M.Syafii Antonio. Beliau adalah seorang tokoh yang sudah tidak asing bagi dunia Islam khususnya di Indonesia yang sangat dikenal dengan pelopor atau tokoh dunia ekonomi syariah atau perbankan syariah. Sebagai seorang mualaf, beliau juga yang sangat fasih berbahasa Arab dan memiliki segudang kesibukan di kancah dunia perbankan syariah.

Kisah muallaf adalah kisah tentang orang-orang terpilih dan sengaja dipilih Allah, yang dikehendaki-Nya untuk meneruskan sebuah dogma prerogatif Allah bahwa hidayah itu kehendak Allah. Tak seorang pun boleh ikut campur. Hatta seorang sekaliber Rasulullah SAW pun tidak berhak memilikinya. Hatta untuk membimbing, memberikan pencerahan kepada pamanda Nabi sendiri.

Iman adalah kado terindah dari Allah SWT. Satu-satunya yang paling berharga yang dipunyai oleh makhluk bernama manusia. Makluk lainnya, tidak ada yang berhak. Kecuali atas izin Allah. Seekor burung Hud-hud, misalnya, menjadi akses hidayah bagi seoranga ratu yang cantik nan jelita: Ratu Bilqis.

Tetes-tetes hidayah adalah tetes embum pagi. Ia menetes dan menyusup di sela-sela kesibukan orang bekerja. Atau juga di sela orang lagi mabuk. Atau menyusup ke dalam pelukan seorang pelacur sekaliupn. Tentang yang terakhir ini, adalah kisah anjing di kasih minum sama sang pelacur itu. Gara-gara ini, ia dapat tiket masuk surga.

Ternyata masuk surga itu gampang ya..

Apakah karena begitu gampang, kemudian kita melacurkan diri lantas cari anjing ‘tuk dikasih minum, detik berikutnya kita dapat tiket surga?

Ya enggak lah. Dan tidak sesederhana itu.

Maka, jangan lihat sebelah mata dan anggap hina seorang pelacur. Boleh jadi ia menyodorkan cermin untuk kita mengaca diri. (ngaca-ngaca dong!) Cermin itu juga memantul ke istana presiden, yang pada detik-detik ini dikudang banyak orang. Cermin yang sama juga memantul ke senayan, tempat para anggota Dewan yang terhormat itu, pada detik-detik ini, pada derajat tertentu juga sedang melacurkan dirinya. Bukan tubuhnya, sih. Tapi, melacurkan organ tubuh bernama otaknya untuk kepentingan dirinya sendiri, golongannya, partainya. Bukan untuk memikirkan kepentingan rakyatnya, sebagaimana kontrak moral politik yang mereka ikrarkan dan janjikan ketika pemilu berlangsung. Sebuah entitas yang hanya disebut dan diabsen kala pemilu datang menjemput.

Pelacur masuk surga itu atas kehendah Allah. Dan suka-suka Allah-lah ngasih hadiah terindah itu kepada siapa yang dikehendaki.

Itulah teknologi hidayah. Sebuah teknologi yang belum pernah diajarkan kepada seorang nabipun. Tapi para nabi itupun tidak bosen-bosennya menjadi marketer Allah. Menjadi ‘brand ambassador’ bagi poduk hidayah itu sendiri. Para Nabi itu terus dan terus memburu untuk mencari muka bernama ibadah ‘tuk mendapatkan credit point serupa 10001 wajah bidadari, yang kelak akan di panen di kampung akhirat.

Tidak masalah berapa liter air mata yang telah tumpah, berapa gallon darah merah yang tercecer, dan berapa tarikan nafas yang hilang sia-sia pada diri Nabi-nabi itu. Tujuannya hanya satu: persembahan untuk to do the best. Selebihnya , hanya untuk mengais sebutir debu ridho-Nya.

Setelah setetes iman masuk ke dalam dada diri-diri mereka — dada para muallaf itu — sebuah perjuangan berat itu baru dimulai. Untuk mendapatkan restu dari orang-orang yang dicintainya — baik dari orang tuanya, saudara-saudaranya, lingkungan yang membesarkannya — butuh waktu tidak satu dua hari. Mereka butuh waktu berbulan-bulan untuk mendapatkan semacam legitimasi, baik secara mental, fisik, dan intelektual di wisma keimanannya yang baru.

(bersambung..)

Rabu, 15 Juni 2011

Harga Setetes IMan (4)

Dengan melihat fakta & realitas “mengajak orang Islam masuk Islam” inilah yang memicu adrenalin amarah sejumlah ormas Islam ― terutama mereka yang masih menggangap tradisi Hindu sebagai bid’ah hasanah) ― merasa punya kepentingan untuk berupaya melakukan aksi pencekalan atas sang ustadz (ah kayak orde baru saja). Upaya ini dilakukan, agar sosok ustadz kontroversial ini tak lagi ‘kurang ajar’ tampil di panggung, mengobok-obok nilai-nilai hidup berupa kearifan lokal (local wisdom) di tengah masyarakat yang sudah tertata rapi dan baik. Jika masih ngotot tampil untuk menyampaikan tausiyahnya, resiko tanggung sendiri : MATI.

Upaya menghabisi nyawa sang ustadz, rupanya tidak hanya melibatkan oknum kacangan, misalnya melibatkan preman kelas teri. Upaya yang dilakukan ternyata tidak main-main, sebuah upaya sistematis dengan melibatkan piranti hukum keagamaan yang ada (dalam hal ini MUI setempat) bekerjasama dengan aparat kemanan setempat (dalam hal ini Polres).

Konspirasi jahat yang dilakukan salah satu ormas Islam ini, mengingatkan saya akan pertuah salah satu sahabat sekaligus menantu nabi Muhammad SWA, Ali bin Abu Tholib ra. Sahabat berjuluk pintu gerbang ilmu ini berkata: “Kejahatan yang terorganisir dengan baik bisa mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir.”

Dalam kesempatan ‘Tabliq Akbar’ di Kaliajir Lor itu, Ust. Abdul Aziz menggungkapkan sejumlah bukti. Diantaranya dengan memperlihatkan satu slide berupa surat yang ditandatangani oleh Majlis Ulama Indonesia (MUI) bekerja sama dengan Polisi Resort (Polres) setempat. Sayangnya, nama daerah dan tempat pelarangan dan pencekalan itu di samarkan oleh sang ustadz. Boleh jadi ini trick sebagai upaya preventif untuk mencegah terjadinya fitnah yang lebih besar.

Apa isi surat itu?


Isi surat itu tidak lain dan tidak bukan bisa ditebak. Sebuah skenario ‘sinetron opera sabun’ berupa adegan pencekalan sang ustadz. Inilah pemegang syah dan meyakinkan dari apa yang dinakaman sisa-sisa peninggalan warisan purba ‘orde baru’. Sebuah upaya pembodohan ditengah masyarakat pintar yang sudah mulai beranjak sadar pentingya melek hukum, melek teknologi dan melek kesadaran politik. Di tengah dunia yang borderless ini (dunia tidak berjarak), sebuah dunia di mana adegan perselingkuhan (baca: perzinaan) yang terjadi di belahan dunia Amerika, bisa disaksikan secara real time (langsung) saat ini juga di sini (di Kaliajir, misalnya) melalui teknologi citra satelit.

Upaya bodoh itu (ma’af, saya katakan demikian), tidak lebih bodoh dari usaha seorang ayah yang melarang anaknya − masih duduk di bangku SD kelas 4 − untuk tidak merokok. Sementara pada saat yang sama, sang ayah sendiri dengan sebatang rokok siap dinyalakan di tangan, menyalakkan atau menggonggongkan larangan itu, yang sama sekali tidak dimengerti oleh anaknya.

Apakah ustadz Abdul Aziz surut mundur ke belakang, kemudian, mengurungkan niat mulianya itu setelah mendapatakn ancaman itu?

Teknologi Ilahi itu bernama hidayah. Bila yang satu ini (QS-5:105) yang sudah terpatri kuat di dada seseorang, termasuk Al-Ustadz, tidak akan yang bisa menghalangi apalagi mengendurkan adrenalin niat dakwah bil haq. Pada point ini, Al-Ustadz yang dalam ‘tabliq akbar’-nya selalu menenteng laptop dengan fasilitas kemewahan sajian aneka olah data foto-foto sejumlah kemaksiatan aqidah ter-update di setiap perjalanan road-shownya keliling Indonesia ini, mengutip garis besar surat Al‘Araf ayat 16-17.

Pesan khusus atau semacam executive summary dari surat Al-A’raf itu diantaranya adalah:

Pertama,
Sebagai kompensasi atas keterlaknat nya syetan dengan segala cara dan upaya, dan menghalalkan segal acara, si terlaknat ini mencari pengikut sebanyak-banyaknya untuk masuk ke neraka, menemani si terkutuk ini.

Kedua,
Sebagai calon tunggal atas keterkutukanya, si laknat ini punya visi dan misi (layaknya pilkada atau pilpres) yang akan menjadikan program-prrogramnya mudah diterima audiennya, yang bertujuan untuk menghalangi manusia dari jalan kebenaran (Al-Qu’ran dan As-Sunnah).

Ketiga :
Tujuan akhirnya adalah agar manusia tidak bersyukur.
(Bersambung ……)

Selasa, 14 Juni 2011

Harga Setetes IMan (3)

“Ayah!” teriak sang anak yang nyaris saja meregang nyawa andai sang ayah tak segera datang.
Itulah detik-detik penuh tragedi, penuh ketegangan, sebuah aksi pembunuhan yang gagal atas seorang muallaf bernama Ida Bagus Sulinggih Winarno, yang dikemudian hari berganti nama menjadi Abdul Aziz.

Bagi yang pernah nonton CD kisah perjalanan seorang muallaf bernama Ustadz Abdul Aziz versi cerita tertulis di atas, tentu saja tidak akan pernah Anda ditemukan di CD itu. Benar. Memang, cerita tersebut hanya fiktif belaka, tapi masih tetap berpijak pada fakta sejarah dengan aktor tunggal sang Ustadz itu sendiri, dengan sedikit eksploitasi imajinatif penulis, untuk menggambarkan betapa sebuah horror pembunuhan sangat mengerikan.

Begitulah fakta yang banyak dijumpai, ketika akses hidayah masuk dalam kalbu seseorang muallaf − tentu saja hidayah itu atas intervensi sang Khaliq − selalu diiringi dengan terror hantu yang jauh lebih mengerikan dari hantu itu sendiri, seperti kisah Ustadz Abdul Aziz di atas.

Jadilah ustadz Abdul Aziz − khususnya hari-hari ini − sebagai a man of paradox. Ia, di mata sebagian umat Islam yang masih mengkultuskan apa yang dinamakan tradisi Hindu yang diangga tradisi baik dari nenek moyang, adalah sejenis manusia most wanted, untuk segera dihabisi.

Rencana percobaan pembunuhan ternyata tidak hanya berhenti sampai di situ. Ketika sang Ustadz, untuk pertama kalinya mengucapkan dua kalimat syahadat, aktor intelektualnya adalah pamannya sendiri, segaris sedarah dalam kasta Brahmana.Tapi sekarang, serangkaian upaya pembunuhan itu dilakukan oleh orang-orang yang tak lain adalah saudara kandung dalam rahim keimanan Islam. Mereka yang benci itu, menginginkan agar sang ustadz tidak mengobrak-abrik nilai-nilai dan tatanan di masyarakat yang sudah ada, yang sudah mapan.


Tradisi nenek moyang yang dikultuskan oleh sebagian umat Islam sekarang ini, menurut sang ustadz dalam acara ‘Tablig Akbar’ bersama Ustadz Abdul Aziz, di Masjid Nurul Iman, Kaliajir, Berbah, Sleman, pada hari Kamis 10 Maret 2011, tidak lain adalah ajaran agama Hindu yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menyerupai Islam.

“Islam rasa Hindu atau Hindu rasa Islam”, demikian sang Ustadz mengistilahkan. Sang Ustadz mengatakan demikian, karena sejak mulai bayi cenger (maksudnya bayi merah) dia hidup berkubang dengan acara-acara yang saat ini masih merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam tubuh umat Islam ini sendiri.

Pada titik ini, masih menurut sang Ustadz sambil mengajukan pertanyaan, mengapa aroma keimanan Hindu yang dulu pernah dikecapnya, kok masih sangat terasa sama, sama rasa sama nikmat, dengan aroma keimanan Islam yang baru dianutnya ini? Didorong oleh penasaran “ Islam rasa Hindu atau Hindu rasa Islam”, inilah sang Ustadz berkeliling ke sejumlah daerah untuk mengadakan road show bertema ‘Tablig Akbar’ bersama mantan Pendeta Hindu, Ustadz Abdul Aziz.

Dari serangkian road show yang pernah dilakukannya, setidaknya dalam lima tahun terakhir, ada sejumlah fakta yang mengejutkan sekaligus menggembirakan. Menurut data yang sudah dikumpulkan oleh Ust. Abdul Aziz sendiri, ada sekitar 400-an orang yang sudah masuk Islam. Mereka ini berasal dari kantong-kantong agama Hindu di Jawa Timur, terutama di daerah Lumajang. Bahkan pada awal tahun 2011 saja, tepatnya bulan Februari lalu, di daerah Bengkulu dan Lampung, ada sekitar 19 orang telah masuk Islam, yang dulunya beragama Hindu.

Dari data dan fakta sejarah terkini inilah, kemudian ustadz menarik sebuah garis merah kesimpulan bahwa mengajak orang Hindu masuk Islam itu mudah, karena latar belakang keyakinan mereka yang sama dengan sang ustadz. Tapi sebaliknya, ironisnya dan tragisnya, mengajak orang Islam masuk Islam yang kaffah, dengan meninggalkan segala aksesoris plus pernak-pernik ke-Hindu-annya (baca: warisan nenek moyang), jauh lebih susah.
(Bersambung ……)